Anak-anak Simpang Lima
“Koran, koran, korannya, Pak?”
“Yang sayang anak, mainannya, Pak, Bu. Silakan.”
“Tahu Sumedang, tahu Sumedang.”
“Wakil rakyat seharusnya merakyat ....” Lagu Bang Iwan yang sangat fals mengalun dari bibir anak laki-laki.
“Koran, koran, korannya, Pak?”
“Yang sayang anak, mainannya, Pak, Bu. Silakan.”
“Tahu Sumedang, tahu Sumedang.”
“Wakil rakyat seharusnya merakyat ....” Lagu Bang Iwan yang sangat fals mengalun dari bibir anak laki-laki.
Namaku Fatmawati, perempuan Bengkulu kelahiran 5 Februari 1923. Sejarah kemudian mencatatku sebagai orang yang paling penting di negeri ini. Seorang perempuan penjahit bendera pusaka merah putih, songsong kemerdekaan bangsa Indonesia.
Biarlah makan seadanya, tetapi dapat berkurban seikhlasnya.
Setiap anak berhak bahagia bersama kedua orang tuanya.
"Bukan hanya orang kaya, kami--orang miskin pun berhak untuk menghirup udara bebas"
“Sebab, yang diungkapkan bunga tidak melulu tentang cinta, tapi juga kasih sayang tulus.”
Tak ada yang berubah. Halaman buku hati ini masih sama; merindukannya. Namun, kenyataan menamparku. Ia tak di sini.
Pagi itu, udara perkotaan sedikit lebih muram dari biasanya. Aku bangun dan menyibak daun jendela kamar. Bau tumbuhan mulai anyir dan gegap pandangan tertuju ke rumah keduaku--sekolah tercinta.
Teriakan dari muka rumah membuat Sati yang baru saja selesai menggoreng kerupuk berlari cepat, menyusul anaknya yang pulang dari sekolah.
"Ibu....,"
Malam itu bulan warnanya pucat, gugusan hitam di separuh lingkarannya menghalangi terangnya.
Libur telah tiba, libur telah tiba. Hatiku gembira.
Penggalan lagu yang dibawakan Tasya sewaktu kecil dan masih menjadi salah satu lagu favorit anak-anak menjelang libur sekolah, nyatanya tidak membuat seluruh anak mengalami hal yang sama—gembira.