Tas Batik Cantik
Teriakan dari muka rumah membuat Sati yang baru saja selesai menggoreng kerupuk berlari cepat, menyusul anaknya yang pulang dari sekolah.
"Ibu....,"
Hati kecilnya bertanya-tanya ada apa gerangan sampai gadis kecil satu-satunya itu tidak mengucap salam seperti biasa. Bahkan suara teriakannya terdengar pilu sebab disertai serak seperti orang yang habis menangis.
Sesampainya di beranda rumah, ia menemukan anaknya tengah berdiri seraya menahan tangis. Tangannya menggenggam erat tas sekolah berwarna pink pudar, yang di sana sini terdapat jahitan rapi dari benang berlainan warna. Seragam putih merah miliknya tampak kusut, terlebih rambut panjang yang tadi pagi diikat rapi oleh Sati kini telah acak-acakkan.
Wanita tiga puluhan tahun itu berjongkok di depan anaknya dengan tatapan iba. Diusapnya pelan rambut Suci—nama pemberian mantan suaminya yang kabur bersama wanita lain—dengan penuh kasih. Lalu dipeluknya erat, hingga air mata yang tadinya dibendung sekuat tenaga luruh begitu saja.
“Ada apa?” tanya Sati setelah melepas pelukannya, dan mengusap air mata Suci.
“Iwan dan kawan-kawan mengejekku, Bu. Katanya tasku jelek, tidak pantas dipakai lagi.”
Gadis kecil yang tahun ini naik ke kelas tiga itu menunjuk tasnya yang bergambar Hello Kitty. Tangan lainnya mengusap air mata yang masih setia luruh meski tadi telah mendapat pelukan hangat sang ibu.
Sati menatap sedih. Memang, seharusnya ia membelikan tas sekolah baru sebagai hadiah juara untuk putrinya. Namun, keadaan tidak memihak sebagaimana seharusnya. Gaji sebagai pembantu rumah tangga hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Ia harus lebih berhemat jika ingin membeli sesuatu yang menyenangkan putrinya. Bahkan untuk membeli perlengkapan sekolah saja, ia benar-benar menyisihkan sebagian gajinya dari dua bulan sebelumnya. Beruntung, kemarin majikannya memberi sepatu milik anaknya yang sudah kekecilan, sehingga ia tidak harus membeli sepatu baru untuk mengganti sepatu Suci yang sudah terkelopak alasnya.
“Sudah, jangan dengarkan omongan Iwan dan kawan-kawan. Mereka memang nakal, ‘kan?!”
Suci mengangguk mantap. Memang Iwan dan kawan-kawannya yang berasal dari keluarga cukup berada di kampungnya adalah anak paling nakal dan ditakuti di kelas. Kakak kelas yang tidak kalah nakal menjadi kawannya pula, guru-guru pun kenal namanya. Ia orang nomor satu di kampung yang paling dicari jika musim buah. Pasalnya pohon buah milik tetangga selalu saja kebagian dicurinya.
“Nanti kalau Ibu ada uang, Ibu belikan tas sekolah, ya,” sambung Sati, masih mengusap rambut anaknya pelan.
“Tunggu Ibu gajian?”
"Iya, Sayang.”
Mata Suci berbinar. Senyumnya melebar hingga dua lesung pipit yang tadi tersembunyi kelihatan. Gigi kelincinya yang baru tumbuh sempurna tampak menggemaskan di mata Sati. Terlebih pipi tembamnya yang selalu saja berhasil membuatnya bahagia setiap kali melihat anaknya itu tertawa lepas.
“Ayo, masuk. Ibu baru selesai masak. Kita makan sama-sama, ya.”
Gadis kecil itu mengangguk. Menurut saja saat sang ibu menuntunnya masuk ke rumah papan yang telah ditinggalinya sejak tiga tahun lalu. Sesaat sebelum ia masuk Sekolah Dasar. Tepatnya ketika ia tahu bahwa ayahnya tidak meninggal seperti yang dikatakan ibunya setiap kali ia bertanya ‘ke mana Ayah?’.
***
Sekolah sudah lewat seminggu, dan hampir setiap pulang ia menemukan mendung di wajah putrinya. Tentu ini masalah yang sama. Ia tidak habis pikir, bagaimana anak-anak sekarang pintar sekali mencela temannya. Pengaruh sinetron memang benar-benar luar biasa. Beruntung ia tidak mempunyai televisi di rumah, jadi kecil kemungkinan Suci akan meniru adegan yang tidak seharusnya.
Beruntung pula anaknya itu gemar membaca seperti dirinya. Sekadar koran pagi kemarin milik majikannya yang ia minta untuk alas gorengan yang dijualnya setiap sore di depan rumah menjadi salah satu bacaan Suci. Atau setiap seminggu sekali ia meminjam buku dari perpustakaan sekolah.
Namun, hati ibu mana yang tidak bersedih melihat anaknya pulang dengan wajah sedih begitu rupa? Ia merasa bersalah karena tidak bisa membahagiakan anak satu-satunya. Berbanding terbalik dengan kehidupannya dulu yang serba ada. Jika saja ia menuruti perkataan orang tuanya untuk tidak menikah dengan laki-laki brengsek itu, mungkin saat ini ia bisa melihat senyum Suci yang hidup berkecukupan. Akan tetapi, kalimat sang ayah yang mengusirnya saat ia nekat tetap menikah, telah membuatnya tidak berani pulang sekalipun keinginan itu kuat.
Sati mengusap air matanya yang jatuh tiba-tiba. Sejak semalam ia kepikiran tas sekolah baru untuk anaknya. Namun, ia tidak enak jika harus meminjam uang walau hanya lima puluh ribu. Takut umurnya pendek dan ia tidak bisa mengembalikan. Membuatnya susah meninggalkan dunia, sedangkan hidup di dunia saja ia sulit.
Pagi itu anak majikannya baru keluar dari kamar hendak berangkat kuliah. Tas batik terselempang cantik di tubuhnya. Matanya berbinar, teringat ada satu kain batik pemberian ibunya sebelum ia meninggalkan rumah.
***
Sebuah tas ransel dari kain batik menjadi satu-satunya hal yang menarik perhatian Suci saat bangun tidur. Gadis kecil itu langsung beranjak dari kasur, mengambil tas batik yang digantung di belakang pintu kamar. Dilihatnya seksama, jahitan tangan ibunya tampak jelas di sana, tetapi tidak kentara karena ditutupi corak batik, lalu dicobanya. Sangat pas!
Ia tersenyum senang, dan menghambur ke dapur untuk menemui ibunya. Tanpa berkata apa pun, ia memeluk ibunya yang tengah menyiapakan sarapan—nasi goreng.
“Ibu, terima kasih.”
Sang ibu tersenyum, mengangguk. “Suci suka?”
“Suka sekali. Cantik! Ibu buat sendiri untuk Suci, ‘kan?!”
“Iya, Sayang. Syukurlah kalau Suci suka. Maaf, ya, Ibu tidak bisa tepati janjinya sekarang. Tapi Ibu janji, kelak kalau ada uang lebih, kita ke pasar untuk beli tas baru,” ucap Sati, mengusap pelan rambut anaknya.
“Ini sudah cukup, Bu.”
Sati menggeleng. “Ibu sudah janji, dan kalau janji ....”
“Harus ditepati,” sambung Suci.
“Benar. Ya, sudah, Suci mandi dulu, sebentar lagi nasi gorengnya selesai.”
Suci mengangguk. Ia berlari ke kamar mandi setelah meletakkan tas barunya di atas kursi.
Sati sendiri merasa senang melihat gadis kecilnya tersenyum lebar. Kerja kerasnya setiap malam selama tiga hari membuat tas batik untuk memberi kejutan putrinya itu tidak sia-sia. Tas dari kain batik yang di dalamnya diberi kain keras agar lebih kuat dan awet akhirnya menjadi hadiah kenaikan kelas yang terlambat. Meski begitu, ia sudah bertekad akan lebih giat mencari uang untuk menyenangkan anaknya. Sebab kebahagiaan tertinggi seorang ibu adalah melihat anaknya bahagia.
***
Bumi Raflessia, 18 Juli 2019
Aiyu A Garaa, Penulis Bengkulu
