Cerita Agis
Setiap anak berhak bahagia bersama kedua orang tuanya.
Pagi-pagi sekali, mamanya Agis sudah repot di dapur. Suara berisik wajan beradu dengan spatula membuat Agis terbangun. Ia melirik jam, 4.30 wib. Bahkan azan Subuh saja belum berkumandang, tetapi perempuan cantik yang menjadi panutannya itu seolah tidak peduli. Padahal seingat Agis, mamanya tidur larut karena harus menunggu papanya pulang kantor.
Agis pun beranjak dari tempat tidur pelan-pelan, takut membangunkan Cathy yang sedang tidur melingkar di atas tubuh boneka panda. Ia membuka pintu perlahan dan menyelinap keluar untuk melihat apa yang mamanya kerjakan. Ah, mungkin Mama sedang masak bekal untuk dibawa hari ini, pikirnya.
Bukankah nanti PAUD tempatnya sekolah juga mengikuti kegiatan yang diadakan oleh gubernur dalam memperingati hari anak? Agis tersenyum sendiri, membayangkan betapa cantiknya ia yang nanti mengenakan baju adat Bengkulu.
Namun, senyumnya tiba-tiba saja memudar saat mendengar percakapan kecil antara mama dan papanya di dapur.
"Tidak bisa, Sayang, pagi ini aku ada rapat sampai siang, lalu lanjut melihat lokasi proyek baru bersama tim. Kamu saja, ya, yang temani Agis."
"Tapi, Mas, Agis ingin sekali, lho, kamu datang."
"Kamu beri alasan apa aja, ya, ke dia."
"Tapi, Mas ...."
"Sudahlah, kamu juga harus ngerti, aku tidak bisa meninggalkan proyek ini. Untuk keluarga kita juga."
Agis mendengar langkah kaki papa yang berjalan ke luar dapur. Sedapat mungkin dirapatkannya tubuh ke dinding, berdiri di balik guci keramik besar yang mamanya beli sewaktu Festival Tabut tahun lalu. Setelah memastikan papa sudah tidak ada, ia pun memutuskan untuk kembali ke kamar. Rasa penasarannya akan apa yang sang mama kerjakan di pagi buta begini hilang. Agis ingin tidur, tidak mau pergi mengikuti lomba mewarnai.
Untuk apa? Papanya tidak akan melihatnya mewarnai. Seperti sebelumnya, beliau akan mengatakan bahwa ia hebat karena selalu menang lomba mewarnai, dan kemudian akan menawarkan hadiah apa yang Agis inginkan.
Terkadang ia iri dengan Fika, temannya yang biasa-biasa saja. Kedua orang tuanya selalu hadir di setiap acara sekolah dan perlombaan yang diikutinya. Ayahnya yang hanya satpam di kantor papanya Agis bahkan meminta izin pada atasannya. Walaupun hanya sebentar, ayahnya Fika selalu melihat dari sisi wali murid.
Agis ingin papanya seperti ayahnya Fika, tetapi papa selalu punya alasan untuk menolak keinginannya. Yang tidak pernah papa tolak adalah saat ia minta dibelikan hadiah.
Suara ketukan pintu kamar bukan membuat Agis bangun, tetapi sebaliknya. Ia malah menutupi tubuh dengan selimut Hello Kitty, hadiah saat dirinya menang lomba mewarnai bulan lalu.
"Agis, ayo, bangun."
Suara lembut mamanya diabaikan begitu saja, ia tidak ingin ke sekolah atau ikut meramaikan Hari Anak meskipun ada banyak kegiatan menarik di Rumah Gubernur nanti.
"Agis. Ayo, bangun, Sayang. Mama tahu kamu sudah bangun. Ayo."
Perlahan, ia menurunkan selimut dari bagian atas kepalanya.
Sang mama tengah tersenyum sebagaimana biasanya. Menenangkan hati. Ia sedikit merasa bersalah karena harus bersikap egois, tetapi sama seperti anak kebanyakan, ia ingin kedua orang tuanya mendampinginya seperti orang tua teman-temannya.
"Agis gak mau pergi, Ma."
"Lho, kenapa? Agis sakit?" Tangan mamanya reflek memegang kening Agis. Gadis kecil itu menggeleng dan ia yakin mamanya tahu apa yang ada di pikirannya sekarang.
Ya, mamanya tahu semua yang ia rasakan.
"Nanti Mama paksa Papa datang," ucap mamanya. Lihat, Agis benar, 'kan?!
"Kalau Papa tetap gak datang?"
"Nanti kita bisa video call sama Papa. Ayo, bangun. Mama sudah siapkan bekal juga baju untuk Agis."
Agis tersenyum, mengangguk. Mamanya memang selalu bisa membuat hatinya tenang. Ia pun bangun. Melipat selimut dan merapikan tempat tidur. Cathy yang masih tidur melingkar pun terpaksa pindah ke kursi.
***
Lapangan Kantor Gubernur pagi itu ramai oleh anak-anak Paud se-Kota Bengkulu. Ada banyak jenis pakaian dikenakan oleh anak-anak yang masih hijau itu selain baju khas Bengkulu seperti yang dikenakan Agis. Awalnya Agis pun ingin mengenakan baju polwan, tetapi sekolahnya mengumumkan bahwa setiap anak harus mengenakan baju adat Bengkulu, agar nilai menghargai kebudayaan juga tumbuh dalam diri anak-anak.
Agis bersama teman-temannya duduk membentuk barisan panjang dengan meja kecil di depan mereka. Anak perempuan yang memang tampak lebih cantik hari itu mulai mengeluarkan perlengkapan mewarnai. Mulai dari cat kayu sampai crayon. Papanya sengaja membelikan semua jenis cat untuk Agis yang senang mewarnai dan menggambar. Selain menjadi polwan, Agis juga ingin menjadi pelukis terkenal seperti pamannya.
Setelah pengarahan dari pembawa acara, kertas berisi gambar yang masih tidak memiliki warna selain putih itu dibagikan. Agis melirik sekitar, menatap satu persatu orang tua teman-temannya dan anak PAUD lainnya. Hampir semua anak didampingi orang tua lengkap.
Agis sangat iri.
"Ayah, nanti tunggu Adek selesai, ya."
Suara cadel Fika membuat Agis menoleh. Temannya itu tengah berbicara dengan ayahnya yang masih mengenakan seragam satpam. Agis menunduk, memandang kosong pada lembar kertas yang harus diwarnainya itu. Ia jadi tidak berniat untuk mewarnai. Biar saja dia kalah dan membiarkan Fika atau anak lain yang menang kali ini.
Agis pun mengambil cat warna dan mulai mewarnai dengan asal. Bibirnya yang biasanya selalu mengikuti lagu yang diperdengarkan di pengeras suara kini mengerucut lucu.
"Agis, warnai yang bagus, ya, Sayang. Papa nanti datang!"
Suara lembut milik mamanya menahan pergerakan tangan Agis saat hendak mewarnai gunung dengan warna cokelat--penggambaran gunung yang kehilangan pohonnya. Ia melihat senyum mamanya yang berdiri tidak jauh darinya. Kemudian ia mengangguk mantap. Keinginan untuk menang kembali menyala di hati Agis. Ia pun langsung mengganti warna cat untuk mewarnai gunung, hijau kebiruan.
Setidaknya itu yang sering ia lihat di lukisan milik pamannya.
Wajah Agis yang tadinya cemberut pun kini tampak ceria kembali. Sesekali ia menggoda yu temannya yang tampak serius mewarnai. Sesekali juga matanya liar memandang sekitar, ke anak-anak sekolah lain. Terkadang ia mengikuti pergerakan Pak Rohidin yang mendampingi anak-anak satu persatu di setiap PAUD. Sesekali pula ia melirik pada awal media yang memegang gawai atau kamera di tangan mereka. Di dalam hatinya, Agis pun berkeinginan pula menjadi wartawan, selain bisa bertemu orang penting nantinya juga bisa pergi ke berbagai tempat.
Agis tertawa kecil dan menggeleng sendiri dengan apa yang dipikirkannya. Memang terkadang ia masih bingung ingin menjadi apa ketika besar nanti. Namun, tetap menjadi anak-anak adalah hal yang diinginkan. Kata pamannya, menjadi orang dewasa itu repot, dan Agis tidak suka repot.
Selain lomba mewarnai, ada pertunjukan sulap dan Agis sudah merencanakan untuk mengajak teman-temannya nanti menonton.
Tangan kecil Agis begitu lihai bergerak di atas kertas. Beberapa orang memperhatikannya dengan takjub saat kertas yang penuh warna itu ia angkat sejajar dengan wajah. Hal ini biasa dilakukan Agis untuk melihat hasil pekerjaannya.
Setelah merasa puas, ia pun menghampiri gurunya, memberikan kertas miliknya, kemudian kembali ke tempat duduknya lagi untuk membereskan cat warna yang berserak di atas meja. Tak lama, setelah semua cat warna pindah ke dalam ranselnya, ia mendekat pada mamanya. Ia ingin tahu apakah papanya sudah jalan kemari atau belum.
"Papa mungkin agak terlambat, Sayang."
Kalimat mamanya yang menyambut Agis langsung membuat senyumnya memudar. Ia memang sudah menduga hal ini. Mamanya selalu saja berbohong hanya untuk menenangkan hati Agis. Ia tahu itu.
Agis pun meninggalkan mamanya, berlari di antara kerumunan. Ia tidak peduli dengan teriakan cemas mamanya. Atau orang-orang yang sekarang melihat ke arahnya. Ia berlari dan terus berlari menjauh lapangan Kantor Gubernur. Air matanya tumpah, dan tiba-tiba ia terjatuh karena menginjak rok-nya sendiri.
Tangisnya kembali pecah. Antara perih di hati juga lututnya yang mungkin tergores. Sebuah tangan terulur padanya. Perlahan mengangkat Agis supaya berdiri lagi. Saat mata itu beradu, Agis menjerit kecil. Papanya!
"Kamu gak apa-apa, Sayang?" tanya papanya cemas.
Agis mengangguk mantap. Ia mengelap sudut matanya, tidak ingin menampilkan wajah jelek di depan papanya. Agis ingin tetap menjadi yang tercantik seperti mama yang dikagumi papanya.
"Agis!"
Suara mamanya membuat Agis menoleh. Ia merasa bersalah melihat wajah cemas mamanya. Ia lagi-lagi egois. Harusnya ia percaya pada ucapan mamanya. Harusnya Agis tahu bahwa mamanya tidak berbohong.
"Agis minta maaf, Ma," ungkapnya penuh penyesalan.
Wajah mamanya yang tadi kaku kini mulai mengendur, menampilkan senyum yang selalu Agis suka. "Lain kali jangan begitu, ya."
Agis mengangguk. Ia berbalik menatap papanya. "Papa, Agis mau lihat atraksi sulap."
"Oh, ada?" Agis mengangguk lagi. "Ya, sudah, ayo. Eh, bagaimana tadi mewarnainya?"
"Sudah dong, guru Agis memuji tadi."
"Bagus. Anak Papa memang hebat."
Agis tersenyum senang, tidak begitu dirasakannya sakit di lututnya tadi yang mencium tanah. Sebaliknya ia tidak berhenti mengoceh. Agis selalu ingin melakukan hal ini. Matanya melirik Fika yang tersenyum ke arahnya, kini mereka berdua sama. Sama-sama digandeng oleh ayah mereka masing-masing.
Memang, peran orang tua sangat berpengaruh pada psikologi juga emosi anak. Meskipun Agis tidak begitu mengerti, tetapi ia menyadari bahwa suasana hatinya langsung berubah ketika papanya yang biasa sibuk kerja itu datang.
Uang tidak melulu membuat bahagia seseorang, tetapi keberadaan seseorang yang dikasihi adalah mutlak membuat bahagia.
***
Bengkulu, 04 Agustus 2019
Aiyu A Garaa, Cerpenis tinggal di Bengkulu
