Pasar Malam
Libur telah tiba, libur telah tiba. Hatiku gembira.
Penggalan lagu yang dibawakan Tasya sewaktu kecil dan masih menjadi salah satu lagu favorit anak-anak menjelang libur sekolah, nyatanya tidak membuat seluruh anak mengalami hal yang sama—gembira.
Ilham misalnya. Anak laki-laki yang baru naik ke kelas empat es-de itu harus bekerja dua kali lebih banyak daripada saat ia sekolah—menjajakan makanan ringan yang dibuat ibunya kepada pengandara motor atau mobil di simpang lampu merah. Jika biasanya sepulang sekolah ia akan berlari cepat ke rumah untuk mengambil makanan ringan berupa keripik singkong, kerupuk, atau kacang goreng yang telah disiapkan ibunya, maka kali ini ia harus berjualan di sepanjang Pantai Panjang. Di mana pada saat libur sekolah ada banyak kegiatan seperti pasar malam yang mendadak ada.
Sebenarnya ini sebuah keberuntungan kecil untuknya. Selain bisa berjualan, dan menghasilkan uang, ia juga bisa bermain bersama teman-teman yang melakukan hal sama seperti dirinya. Atau bisa saja ia menaiki salah satu wahana untuk melepas rasa penasaran karena saban kali ke sana selalu melihat betapa riuhnya tawa orang-orang, atau semringahnya senyum mereka.
Namun, ia memilih tidak melakukannya. Cukup mahal tiket yang ditawarkan oleh penjaga. Sepuluh ribu rupiah. Sama artinya dengan lima bungkus kacang goreng. Sedangkan untuk menjual satu kacang goreng yang dibungkus plastik pun susah sekali. Belakangan, orang-orang lebih tergiur dengan makanan cepat saji yang dijual di pinggir jalan. Lebih praktis dan berkelas.
Apalagi remaja yang ia temui. Jarang sekali ada penolakan halus yang Ilhama terima. Sebaliknya, tatapan aneh dari mereka yang terkesan jijik. Apa yang salah dari anak sepuluh tahun menjajakan makanan ringan? Ah, apa karena pakaiannya yang terlihat lusuh? Kaus berbahan katun yang entah sudah berapa kali dicuci dan terkena sinar matahari itu sudah barang tentu kusam warnanya. Bahkan ada di beberapa tempat yang bolong. Namun, hanya itulah kaus yang ia punya, tidak jauh berbeda dengan kaus lainnya yang disimpan tidak begitu rapi di dalam lemari kayu milik almarhumah neneknya. Atau karena rambutnya yang sedikit pirang alami—bukan seperti orang-orang yang sengaja ke salon untuk memirangkan rambutnya dengan pewarna dan merogoh kocek cukup dalam—dan tidak terurus rapi. Mungkin saja.
Ia tidak ingin peduli lebih banyak, masih ada ibu-ibu baik hati yang mau merogoh isi dompetnya untuk membeli dagangannya. Terkadang disertai obrolan kecil sebelum ia berlalu, seperti pertanyaan ‘Kamu kecil-kecil sudah pintar jualan, masih sekolah? Kelas berapa sekarang?’ atau ‘Orang tuamu ke mana? Kok tega nyuruh anaknya jualan, bukan liburan?’.
Ilhama hanya diam atau sesekali menjawab seperlunya. Ia tidak mau orang-orang tahu bagaimana keadaannya. Ayahnya pernah mengatakan bahwa anak laki-laki harus tetap terlihat kuat dan tidak boleh menceritakan tentang kekurangannya pada orang lain.
Meski jauh di lubuk hatinya, Ilhama juga ingin merasakan liburan bersama keluarga seperti teman-temannya. Di hari pertama masuk sekolah, biasanya ia dan teman-temannya berbagi cerita di sudut kelas, dan biasanya pula Ilhama selalu menjadi orang yang paling setia mendengarkan.
Pada pelajaran bahasa Indonesia pun sang guru akan menyuruh semua siswanya mengarang bebas dengan tema liburan, dan hampir di semua karangan bebasnya, Ilhama selalu menceritakan kegiatan berjualannya yang menurutnya tidak seseru cerita teman-temannya. Ia ingat, hanya satu kali ia merasakan liburan bersama keluarga. Ya, satu tahun lalu saat ayahnya diantar pulang oleh ambulans dalam keadaan tidak bernyawa. Saat itu, ia benar-benar selalu di rumah, menemani ibunya yang menangis sambil memeluk adiknya yang berumur tiga bulan.
***
Pagi ini setelah mengasuh sang adik sementara ibunya memasak, Ilhama pun berangkat berjualan. Kalau pagi biasanya Pantai Panjang masih sepi pengunjung, maka ia pun memilih ke simpang lampu merah yang tidak begitu jauh dari rumahnya di daerah Anggut Atas. Baru menjelang sore, setelah makan siang yang terlambat dan mandi, ia langsung ke daerah Pantai Panjang membawa makanan ringan lebih banyak, dan naik angkutan umum yang dibawa tetangganya. Gratis.
“Sebentar lagi kita masuk sekolah, ya. Bosan aku tuh belajar,” ungkap Radian, teman sepermainannya. Mereka tengah duduk di bawah salah satu pohon cemara yang berjajar indah di Pantai Panjang. Terik matahari begitu membakar kulit. Wajar saja, saat ini hampir memasuki musim kemarau, yang jika siang hari akan terasa sangat panas dan malam hari dingin seperti di daerah pegunungan.
“Belajar kok bosan, An. Kata ayahku, sepanjang hidup di dunia ini kita harus belajar. Ya belajar apa aja.”
“Walaupun sudah besar? Gila!”
“Iyalah. Emang kaupikir kalau sudah besar tidak perlu belajar lagi?”
“Ya iyalah. Buat apa belajar? Sudah banyak ilmu yang guru kasih di sekolah,” timpal Radian seraya membuka sebungkus kerupuk. Lapar katanya.
Ilhama hanya menggeleng. Temannya yang satu ini memang termasuk salah satu orang yang tidak suka belajar apalagi memperhatikan pelajaran. Lebih-lebih ketika pelajaran ilmu pengetahuan alam. Katanya, untuk apa mengetahui tentang alam segala, toh kita semua hidup berdampingan dengan alam, kalau penasaran dengan sesuatu ya langsung dicoba saja, seperti misalnya bagaimana cara katak berkembang biak, ya tinggal dipelihara saja.
“Terserah kau sajalah, An.”
Radian mencebik, lalu bertanya lagi, “Cita-cita kau apa, Ham?”
“Membuat ibuku bahagia.”
“Memangnya ibumu tidak bahagia?” tanyanya polos, masih asyik mengunyah kerupuk. Suara kriuk dari mulutnya membuat beberapa orang yang lewat memandang mereka, tetapi tidak membeli.
“Kayaknya tidak. Aku sering lihat Ibu diam-diam menangis di kamar. Kadang-kadang dia ngomong sendiri, tak tahu ngomong apa. Tidak jelas.”
Radian mengangguk-angguk sok mengerti. “Lalu gimana kau mau buat ibumu bahagia?”
“Aku belum tahu. Tapi … aku ingin sekali mengajak Ibu ke pasar malam. Sejak Ayah meninggal, Ibu tidak pernah jalan-jalan. Paling sesekali ke rumah saudaranya. Ibu sering kerja, aku kadang kasihan sama dia.”
“Aku juga, ibumu kelihatan lebih kurus, Ham. Beda sama ibuku.”
“Jelaslah, ibumu makannya banyak,” tandas Ilhama, lalu tertawa. Radian memukul lengannya cukup keras, tetapi tak urung tawanya pecah juga. “Udah, yuk, kita keliling lagi.”
“Ayo!”
Keduanya pun beranjak dari duduk mereka. Namun, belum sempat berjalan, satu suara memanggil dengan sebutan ‘dik’ yang hangat. Seorang remaja laki-laki yang memegang sebuah buku di tangan kanannya.
“Iya, Kak. Mau beli?” sahut Ilhama, langsung menawari dagangannya.
Laki-laki dengan wajah bersih dan kumis tipis itu tersenyum. “Iya, berapa semuanya?”
“Eh, semua?” Keduanya terkejut. Saling pandang, kemudian menatap ke arah remaja tanggung yang Ilhama taksir masih SMA atau anak kuliahan.
“Semua maksudnya dagangan kami berdua, Kak?” tanya Radian memastikan pendengarannya.
“Iya, berapa?”
Radian yang sangat lemah pada pelajaran matematika langsung menyikut lengan Ilhama. Mengerti maksud temannya, Ilhama pun mulai menghitung harga semua jajanan yang mereka bawa.
“Seratus lima belas ribu, Kak,” katanya kemudian.
“Kauyakin segitu semuanya?” bisik Radian tak percaya.
“Iya, sudah kuhitung semua, ‘kok. Kalau tidak percaya hitung saja lagi.”
“Tidak, tidak. Aku percaya, ‘kok.”
Ilhama mencibir. Ia lalu menatap pada remaja laki-laki yang berdiri gagah di depan mereka. Sekilas, ia ingat ayahnya. Terkadang ia juga menangis diam-diam di kamar seperti ibunya ketika rindu pada sang ayah.
“Ini, Dik.” Remaja itu menyerahkan tiga lembar lima puluh ribu pada Ilhama. “Kembaliannya ambil aja. Ajak ibumu ke pasar malam, ya.”
Tampak binar di kedua Ilhama. Ternyata masih ada anak muda yang baik hati, pikirnya. Ia pun mengangguk setelah uang itu berpindah tangan. Setelahnya, ia dibantu Radian sibuk memasukkan jajanan yang dibawanya tadi ke dalam kantong plastik. Dua kantong plastik ukuran sedang penuh.
“Ini untuk kamu berdua. Belajar yang rajin, ya,” kata remaja laki-laki yang tidak diketahui namanya itu sambil menyodorkan kantong plastik, dan membelai pelan kepala mereka bergantian.
“Kenapa Kakak baik sekali?” tanya Ilhama penasaran.
“Karena Kakak tidak sempat mengajak Ibu ke pasar malam.”
***
“Ibu, ayo kita naik wahana itu!” tunjuk Ilhama pada kincir angin yang tidak begitu tinggi, jauh berbeda dengan yang pernah dilihatnya di televisi di rumah Radian.
“Memangnya berani?”
“Berani dong, Bu. Adek juga, ‘kan?!”
Bayi berumur satu tahun lebih itu tertawa seraya menggerak-gerakkan tangannya riang. Sang ibu yang menggendong pun mengangguk. Mereka pun membeli karcis yang memang selembarnya sepuluh ribu.
Malam itu, Ilhama melihat wajah ibunya tampak lebih muda dan cantik. Namun, ia berjanji akan membuat ibunya lebih bahagia dari hari ini. Ia harus sekolah yang tinggi seperti pesan ayahnya dulu.
***
Bumi Rafflesia, 7 Juli 2019
Aiyu A Gaara, Penulis tinggal di Bengkulu, Aktif di Komunitas Menulis Bengkulu.
