Ribuan Ayat Suci Bergema Sepanjang Pantai Panjang, Cetak Sejarah Perdana di Bengkulu
BENGKULU — Sepanjang Pantai Panjang, ribuan suara lantunan ayat suci untuk pertama kalinya menggema serentak, menciptakan momen yang jarang terjadi di ujung barat Pulau Sumatra itu. Gelombang suara yang begitu lembut namun penuh kekuatan itu tidak hanya mengisi ruang, tetapi juga menyentuh suasana batin siapa pun yang hadir di lokasi.
Acara perdana ini mempertemukan puluhan kelompok penghafal Al-Quran dari berbagai komunitas dan latar belakang. Mereka bergabung bukan dalam kompetisi, melainkan dalam sebuah pertemuan hati untuk saling menguatkan dan berbagi semangat kebaikan. Pantai yang biasanya riuh oleh debur ombak menjadi saksi bisu saat ribuan ayat suci bersatu dalam harmoni.
Bagi banyak peserta, momen ini bukan sekadar kegiatan simbolis. Ada rasa kebersamaan yang kuat, seperti tangga-tangga kecil yang disusun dari satu suara ke suara lainnya, menapak ke makna yang lebih dalam tentang ketenangan dan fokus dalam hidup. Bahkan bagi pejalan yang kebetulan melintas, aura berbeda terasa begitu menyentuh.
“Kami ingin menebar energi positif melalui ayat suci, di tempat yang sejak lama menjadi ruang bagi banyak orang merenung,” ujar salah satu peserta dalam raut wajah yang penuh haru namun damai. Suara ayat yang mengalun diikuti oleh desiran angin pantai menambah nuansa syahdu acara ini.
Pantai Panjang bukan hanya sekadar latar tempat. Keindahan alamnya berpadu dengan lantunan ayat menciptakan suasana yang tidak biasa — seperti mengajak siapa pun yang mendengarnya untuk turut sejenak menitipkan harapan dan doa. Ada rasa kecil, namun kuat, bahwa tiap helai kehidupan memiliki tempatnya sendiri dalam harmoni yang lebih luas.
Acara ini juga menjadi pengingat bahwa pertemuan antar manusia, dalam bentuk yang paling sederhana sekalipun, dapat menciptakan resonansi positif. Jika suara bisa bersatu, begitu juga niat baik yang datang dari hati-hati yang berbeda, namun sejalan dalam satu tujuan: kedamaian, refleksi, dan penguatan spiritual.
Di akhir acara, ketika lantunan itu mereda dan pantai kembali sunyi, yang tersisa bukan sekadar hening yang biasa, tetapi rasa bahwa sesuatu yang sederhana sekalipun memiliki kekuatan untuk menjalin kebersamaan. Ribuan ayat suci yang bergema itu menjadi catatan baru dalam sejarah kota — bukan hanya sebagai suara, tetapi sebagai pengingat bahwa kehidupan yang damai lahir dari kebersamaan yang tulus.
