Peran Rico Kadafi dan Rico Diansari Dalam Mengatur Proyek dan Fee Untuk RM
Nama Rico Kadafi alias Rico Madari mulai disebut oleh aparat penegak hukum sejak Ridwan Mukti menjadi Gubernur Bengkulu. Sebelum terjadi OTT KPK pada 20 Juni 2017, Rico Kadafi disebut menerima aliran dana Rp 500 juta dari proyek Lapen di Pulau Enggano tahun 2016 yang saat ini masih ditangani penyidik Kejaksaan Tinggi Bengkulu. Uang tersebut diduga untuk pembelian Moge Harley Davidson. Namun Rico berkelit dan membela diri bahwa pembelian moge menggunakan duit pribadinya. Proyek tersebut dibawah naungan Dinas PU Provinsi Bengkulu.
Sedangkan Rico Diansari adalah kontraktor PT Rico Putra Selatan yang juga politisi Bengkulu. Dikenal borjuis, Rico pernah menjabat sebagai Wakil ketua DPW PAN Bengkulu, DPW Demokrat dan terakhir dipercaya Ridwan Mukti untuk menjabat bendahara DPD Golkar Provinsi Bengkulu.
Rico Kadafi, Adik Ipar Ridwan Mukti Pengatur Proyek
Nama Rico Kadafi kembali disebut dalam perkara OTT KPK atas empat terdakwa yakni Jhoni Wijaya, Rico Dian Sari, Lily Martiani Madari dan Ridwan Mukti.
Dalam surat dakwaan JPU KPK atas dua terdakwa hasil OTT yakni Lily dan Ridwan Mukti pada persidangan di PN Tipikor Bengkulu, Kamis (12/10/2017), nama Rico Kadafi disebut sebagai orang kepercayaan Ridwan Mukti. Sekitar bulan September 2016, Kuntadi ditawarkan oleh Ridwan Mukti untuk menjabat sebagai Plt Kadis PUPR Provinsi Bengkulu. Ridwan Mukti menyampaikan kepada Kuntadi agar setiap proyek di dinas tersebut dikoordinasikan dengan Rico Kadafi alias Rico Maddari.
"Pak kun, dalam hal pekerjaan ke PU an, nanti koordinasikan dengan Rico, adik ibu," kata Ridwan Mukti. Rico Kadafi alias Rico Maddari tak lain adalah adik ipar Ridwan Mukti. Dikesempatan tersebut, Ridwan Mukti juga mengingatkan kepada Kuntadi terkait uang proyek dari dinas PUPR. Dalam bahasa Jawa Ridwan Mukti menyebut "Ojo lali, lek ono susuk'e". Maksudnya jangan lupa memberikan uang dari proyek di PUPR kepada Ridwan Mukti.
September berlalu, Oktober 2016 tiba. Kuntadi akhirnya dilantik menjadi Plt Kadis PUPR Provinsi Bengkulu. Dering telepon dari Rico Kadafi menegaskan pesan Ridwan Mukti bahwa proyek harus dikoordinasikannya. Pertemuanpun diatur terkait proyek di dinas yang dipimpin Kuntadi. Pada kesempatan lain, penegasan kembali dilakukan oleh Lily kepada Kuntadi. "Pak Kun, hubungi Rico ya", ucap Lily di Bandara Fatmawati Soekarno kepada Kuntadi.
2017 tiba, bulan Maret Kuntadi kembali bertemu dengan Rico Kadafi di Plaza Senayan lantai 2 Jakarta. Rico menunjukkan print out daftar paket proyek di Dinas PUPR Provinsi Bengkulu semua bidang tahun anggaran 2017. Dalam print out tersebut telah ditandai calon pemenang tender. Rico meminta Kuntadi mengatur agar pemenang lelang adalah sesuai permintaan Rico sebagaimana didaftar print out.
Rico Kadafi : "Pak Kun tolong amankan ini semua".
Kuntadi : Iya.. bisa diamankan".
Namun Kuntadi nampaknya tidak menuruti keinginan Rico Kadafi. Terbukti, Ridwan Mukti memangil Kuntadi di rumah kediamannya pada pada 30 Mei 2017. Dalam pertemuan tersebut hadir beberapa pejabat Pemprov Bengkulu.
Ridwan Mukti : "Mana paket yang sudah lelang dan belum, yang rencana dikontrakkan? Siapa pemenang lelangnya? Saya kan tidak kenal, waktu pilkada kemana aja mereka itu? Enak banget dapat paket dari PU. Mereka semua disuruh menghadap saya dulu nanti baru diputuskan, kontraktor-kontraktor yang tidak sesuai keinginan saya ..batalkan saja".
Kuntadi : "Siap pak".
Ridwan Mukti : "Saya ini jadikan kalian pejabat, harusnya kalian itu mengerti keinginan dan membantu saya, kalau tidak kalian tahu sendiri akibatnya".
Selanjutnya Ridwan Mukti meminta Kuntadi membuat daftar proyek di PUPR yang mudah dimengerti, Ridwan Mukti curiga ada yang tidak sinkron dan ditutupi.
Pada 31 Mei 2017, Lily meminta Rico Kadafi agar Rico Dian Sari (Bendahara DPD Golkar Bengkulu dan pemilik PT Rico Putra Selatan) menghadap Ridwan Mukti di Jakarta.
Rico Kadafi kemudian menghubungi Rico Dian Sari, dan diiyakan. Lily juga meminta Rico Kadafi agar berkomunikasi dengan Kuntadi agar mengumpulkan seluruh kontraktor yang sudah menandatangani beberapa paket proyek di Dinas PUPR Provinsi Bengkulu untuk menghadap Ridwan Mukti di Jakarta.
Rico Kadafi : "Tolong pak Kun, kumpulkan para rekanan yang sudah tandatangan kontrak, hadir ke Jakarta ketemu Pak Gubernur".
Permintaan tersebut ditindaklanjuti oleh Kuntadi. Kepada rekanan Kuntadi meminta mereka menghadap Gubernur di Jakarta.
Kuntadi : "Pak Gub mau bertemu rekanan di Jakarta".
Jhoni Wijaya : "Saya atur jadwalnya dulu".
Pada 1 Juni 2017, Kuntadi mengumpulkan rekanan pemenang lelang diantaranya :
- Rico Dian Sari (PT Rico Putra Selatan)
- Jhoni Wijaya (PT Sarana Mitra Saudara)
- Ahmad Irfansyah (PT Sumber Alam Makmur Sejati)
- Haryanto alias Lolak (PT Peu Putra Agung)
Kepada mereka, Kuntadi berpesan agar menghadap ke Ridwan Mukti. Pada hari tersebut Rico Kadafi memberitahukan lokasi pertemuan yakni di Hotel Mulia Jakarta.
Pertemuan sempat akan dibatalkan karena hanya 3 kontraktor yang akan hadir. Namun Lily tetap ingin melanjutkan pertemuan. "Jangan.. tidak apa-apa, nanti ngobrol saja dengan bapak (Ridwan Mukti".
Dilantai 5 Hotel Mulia Jakarta dilangsungkanlah pertemuan antara Rico Kadafi, Rico Dian Sari, Teza Arizal dan Rahmani Saifullah.
Ridwan Mukti : "Cuma ini yang datang?".
Rico Kadafi : "Iya".
Kepada Teza Arizal dan Rahamni Saifullah, Ridwan Mukti menunjuk Rico Kadafi dan Rico Dian Sari sebagai pengatur pekerjaan. "Masalah pekerjaan nanti diatur saja dengan mereka berdua," ucapnya.
Pertemuan berlanjut pada 2 Juni 2017 di Coffe Club Senayan City Jakarta. Hadir Rico Dian Sari, Rico Kadafi dan Lily. Lily sempat menanyakan kenapa yang hadir dalam pertemuan sehari sebelumnya hanya sedikit. Rico Dian Sari hanya diam.
Lily : "Sebentar lagi lebaran, kalau bisa dibantu lewat para kontraktor-kontraktor pemenang tender".
Rico Dian Sari : "500 juta ya yuk. Karena uang muka belum keluar".
Lily : "Ko, kalo ada lebih ya ko. Tambah ya Ko".
Rico Dian Sari : "Iya, nanti kalo cair uang muka nanti aku lebihin". "Nanti kalau ada kawan pengusaha yang mau kasih THR, aku kabarin ayuk".
Lily : "Iya, kabarin ya Ko".
Dalam pertemuan tersebut Lily juga menyebut tentang komitmen fee sebesar 10 persen yang harus diberikan oleh pemenang lelang kepada Ridwan Mukti.
Kelanjutan cerita, pada 5 Juni 2017 digelar pertemuan di ruang kerja Gubernur Bengkulu. Hadir dalam pertemuan tersebut Syaifudin Firman, Rico Diansari, Jhoni Wijaya, Ahmad Irfansyah dan Haryanto alias Lolak.
Ridwan Mukti nampak marah.
Ridwan Mukti : "Saya ini ikut pilkada berdarah-darah, habis ratusan miliar, emang kalian selama dimana selama ini? Jangan-jangan kalian lawan, bukan pendukung saya? Kenapa ga pamit sama saya? saya ini mantan pengusaha dan sudah dua periode jadi bupati. Ini sekarang saya jadi gubernur, saya penguasa di Bengkulu".
Sambil menatap Jhoni Wijaya, Ridwan Mukti bertanya.
Ridwan Mukti : "Kamu ya yang punya PT SMS?".
Jhoni Wijaya : "Bukan pak, yang punya pak Suhinto dari Padang".
Ridwan Mukti : "Cina itu ya? Suruh dia menghadap saya, cepat, jangan macam-macam sama saya, nanti saya tempeleng Cina itu".
Jhoni hanya diam dan mengangguk. Kepada yang hadir dalam pertemuan tersebut, Ridwan Mukti memberikan warning.
- "Jangan macam-macam bermain dengan staf saya, staf saya nanti saya tempeleng"
- "Nanti saya bikin bangkrut kalian, di blacklist perusahaannya, saya putus kontrak kan semua"
Diakhir pertemuan, Ridwan Mukti menegaskan agar soal komitmen fee dikoordinasikan dengan Rico Diansari.
Waktu bergulir, dan tibalah pada 20 Juni 2017 KPK mencokok Rico Diansari dan Jhoni Wijaya serta Lily dan Ridwan Mukti karena diduga menerima suap Rp 1 miliar dari Jhoni Wijaya. (Rori Oktriyansyah)
