Penerapan Inflation Targeting Framework di Indonesia
Sibernews.com - Dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir,dalam situasi ekonomi yang juga belum sepenuhnya pulih dari permasalahan yang timbul sebagai akibat krisis keuangan gloal sejak
2007, tantangan kebijakan moneter dengan ITF di Indonesia cenderung semakin
berat.berbagai tantangan muncul berupa permasalahan yang berakar dari dinamika
lingkungan strategis, dalam lingkup global, nasional, maupun regional. Dalam lingkup global,
permasalahan muncul terkait dengan pengaruh krisis keuangan dan tingginya mobilitas arus
dana jangka pendek yang sangat mempengaruhi perkembangan nilai tukar.
Selain itu, perubahan perilaku dalam system keuangan juga berpotensi meningkatan kompleksitas
pengendalian moneter dan semakin sulitnya pengambilan keputusan. Dalam lingkup
nasional,permasalahan muncul terkait dengan terjadinya fenomena akses likuiditas dan
fenomena kekakuan structural di sisi suplai, yang secara fundamental mengganggu
bekerjanya mekanisme transmisi kebijakan dan memberikan tekanan terhadap stabilitas
moneter.
Sementara itu, dalam lingkup regional adalah terkait dengan peningkatan dinamika
keuangan pemerintah sejalan dengan berlangsungnya era otonomi daerah, yang
menyebabkan persistensi tekanan inflasi daerah yang masih cenderung tinggi. Dalam
lingkungan yang sangat dinamis tersebut, tentunya tidak mudah bagi bank Indonesia untuk
mengarahkan inflasi pada sasarannya, dan dengan demikian membangun kredibilitas
kebijakan moneter. Berkaitan dengan berbagai dinamika tersebut, bank Indonesia
melakukan penelitian atas pelaksanaan ITF selama hamper 5 tahun terakhir.
Tujuan penelitian ini adalah untuk melakukan review komperhensif atas kinerja
penerapan ITF di Indonesia serta memberikan masukan penyempurnaan strategi penerapan
ITF di Indonesia ke depan. Secara khusus penelitian ini bertujuan untuk menjawab
beberapa isu mendasar terkait dengan format ITF yang sesuai dengan karakteristik
perekonomian Indonesia.
Dengan merujuk pada lingkup studi mengenai penerapan ITF di beberapa negara ini mencakup aspek lima dasar yaitu sasaran inflasi, kerangka kerja kelembagaan, kerangka kerja operasional, koordinasi kebijakan, dan kualitas analisis dan riset kebijakan. Teknik penggalian informasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah comparative review atas literatur, policy paper, dan dokumentasi lain yang didukung oleh analisis dan permodelan empiris. Pelaksanaan review dilakukan dengan membandingkan
pencapaian kinerja penerapan ITF di Indonesia dengan kaidah atau prinsip dasar penerapat
ITF, baik yang berakar pada kajian teoritis maupun best paractises beberapa negara.
Dalam pembandingan ini, akan dianalisis pula prakondisi atau kondisionalitas yang terjadi yang
berpotensi memunculkan konflik atau hambatan dalam pencapaian hasil yang diharapkan.hasil identifikasi performance gap penerapan ITF yang didasarkan pada pembandingan tersebut akan menjadi rujukan untuk penyempurnaan strategi penerapan ITF ke depan.
Hasil review menunjukan bahwa penerapan ITF di Indonesia selama hamper lima tahun terakhir sudah mencatat beberapa keberhasilan, yaitu dengan penerapan ITF yang sudah semakin tertata dan disertai dengan peningkatan kualitas, dalam artian sesuai dengan bestpractices, pemikiran teoritis, dan kondisi empiris di Indonesia. Secara umum, dibandingkan dengan kondisi sebelum penerapan ITF, beberapa perkembangan positif telah dicatat dalam hal penetapan dan pengumuman sasaran inflasi, dan kualitas analisis dan riset kebijakan. Penilaian positif tersebut dapat dikaitkan dengan aspek aspek dalam proses
kegiatan pada umumnya (business process as usual).
Diluar itu, secara khusus, dalam periode penerapan ITF tercatat pula beberapa perbaikan aspek fundamental yang bersifat subtantif, yang membedakan menfaat keberadaan ITF dengan kerangka kerja kebijakan yang lain, yaitu adanya pematangan eksistensi kelembagaan, kejelasan sinyal kebijakan, dan peningkatan kredibilitas kebijakan.
Diluar catatan keberhasilan ITF tersebut, terdapat beberapa catatan penyempurnaan yang mendasar bagi kinerja ITF ke depan,khususnya terkait perubahan perilaku dalam system keuangan di satu sisi, serta sampai sejauh mana peran ITF dalam mendukung proses pemulihan ekonomi domestic dalam situasi krisis keuangan global dewasa ini, yang juga penting adalah bagaimana manfaat keberadaan ITF selanjutnya dapat di refleksikan ke dalam pembangunan ekonomi. Dalam perspektif regional.
Permasalahan-permasalahan tersebut pada akhirnya telah menjadikan dimensi pengelolaan kebijakan moneter dan menjadi semakin kompleks. Dari artikel ini saya bisa ambil kesimpulan bahwa ITF di Indonesia cenderung semakin berat.berbagai tantangan muncul berupa permasalahan yang berakar dari dinamika lingkungan strategis, dalam lingkup global, nasional, maupun regional. Dalam lingkup global,
permasalahan muncul terkait dengan pengaruh krisis keuangan dan tingginya mobilitas arus
dana jangka pendek yang sangat mempengaruhi perkembangan nilai tukar.
Selain itu, perubahan perilaku dalam system keuangan juga berpotensi meningkatan kompleksitas
pengendalian moneter dan semakin sulitnya pengambilan keputusan. Dan dari hasil review
menunjukan bahwa penerapan ITF di Indonesia selama hamper lima tahun terakhir sudah
mencatat beberapa keberhasilan, yaitu dengan penerapan ITF yang sudah semakin tertata
dan disertai dengan peningkatan kualitas, dalam artian sesuai dengan bestpractices,
pemikiran teoritis, dan kondisi empiris di Indonesia.
