Anak-anak Simpang Lima
“Koran, koran, korannya, Pak?”
“Yang sayang anak, mainannya, Pak, Bu. Silakan.”
“Tahu Sumedang, tahu Sumedang.”
“Wakil rakyat seharusnya merakyat ....” Lagu Bang Iwan yang sangat fals mengalun dari bibir anak laki-laki.
Terdengar suara anak-anak jalanan yang sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing. Ada yang sibuk menjual koran harian, menjajakan makanan, bahkan ada pula yang menawarkan mainan pada orang-orang yang berhenti di lampu merah. Beberapa terlihat sedang menjual suara yang jauh dari kata merdu. Namun, mereka tak peduli akan suara yang fals itu, yang penting dapat uang.
Usia mereka semua masih sangat muda. Mulai lima hingga tiga belas tahun. Di usia yang sangat muda begitu bukannya digunakan untuk bermain dengan teman sebayanya, malah mereka habiskan di jalanan kota. Banyak yang tidak sekolah akibat biaya yang cukup mahal. Pikirnya, daripada membayarkan uang pada sekolah lebih baik untuk mengisi perut mereka agar tak kelaparan dan menjadi gelandangan.
Mengharap bantuan pemerintah, sama seperti mimpi tidur di hotel bintang lima. Sedangkan rumah pinggiran mereka saja jauh dari perhatian. Padahal, mereka pun sama dengan yang lain—generasi muda Indonesia—juga. Butuh pendidikkan dan kehidupan yang layak.
“Hei, Bara, mana temanmu yang lain?” Suara gadis belasan tahun berseragam putih abu-abu mengagetkan Bara, penjual koran yang masih belum lancar membaca dan mempunyai rambt keriting terpanggang matahari. Wajar saja, sehari-harian ia berada di jalanan untuk mendapatkan uang yang tak sebarapa.
“Kak Dinda! Kakak datang lagi?” Senyum semringah terpancar dari wajah lusuh itu. Remaja yang dipanggil Kak Dinda itu hanya mengangguk dan tersenyum. “Panggil teman-temanmu, ini sudah jam tiga sore. Waktunya untuk belajar.”
“Iya, kami ingat, Kak. Yang lain akan kupanggil. Kakak tunggu saja di bawah pohon tempat biasa,” kata Bara semangat.
“Baiklah, jangan lama, ya. Kakak tidak boleh pulang terlalu sore.”
“Siap!” Bara mengangguk sambil mengangkat tangannya ke arah pelipis layaknya orang hormat. Tak lama ia sudah berlari memanggil teman-temannya yang lain.
**
Sudah sebulan ini Dinda—remaja enam belas tahun—itu berada di tengah-tengah anak jalanan Simpang Lima Bengkulu. Mengajari mereka baca tulis, sesekali juga membawa makanan yang dibuatkan Mamanya. Awal pendekatan tidaklah mudah, beberapa kali ia ditolak anak-anak itu. Dianggap orang yang sok peduli. Namun, ia tak menyerah. Setiap hari ke sana untuk meyakinkan mereka bahwasannya ia tulus mau berbagi ilmu pada generasi muda seperti anak-anak itu.
Ia sendiri masih berstatus pelajar di salah satu sekolah favorit di Bengkulu. Beberapa kali juga Dinda mengajak temannya untuk berbagi. Berbagi apa saja. Seperti baju, buku-buku bekas sewaktu sekolah dasar dulu, apapun yang masih layak pakai dan bermanfaat untuk anak-anak jalanan.
Dan sekarang usaha Dinda tak sia-sia. Temannya mulai banyak yang bergabung untuk mengajari anak-anak Simpang Lima itu baca tulis. Kali ini pun Dinda mengajak kedua temannya sepulang sekolah ke halte di bahu jalan di bawah pohon. Ia menyempatkan waktu minimal seminggu dua kali untuk mengajari anak-anak yang sekarang dipanggilnya Pasukan Ksatria Jalanan.
Ada rasa senang dan kepuasan tersendiri bagi Dinda. Dia hanya berpikir, jikalau banyak orang yang peduli seperti ini tentulah generasi muda akan lebih banyak tumbuh untuk memajukan bangsa, tanpa peduli status sosial seseorang. Sayangnya, beberapa orang memandang sebelah mata pada orang lainnya karena penampilan dan pekerjaan mereka.
***
Bengkulu, 21 Agustus 2019
Aiyu A Gaara
