Skip to main content
Red
Ilustrasi
26

Qurban Nenek Jum

by Redaksi
posted onAugust 11, 2019

Biarlah makan seadanya, tetapi dapat berkurban seikhlasnya.

Nenek Jum, begitu orang-orang memanggilnya. Nama aslinya Jumariah, seorang perempuan yang di masa mudanya berkubang di dunia malam. Banyak kisah yang tak habis untuk diceritakan jika sudah membicarakan Nenek Jum. Mulai dari perempuan panggilan, sampai perusak rumah tangga orang. 

Paras Jumariah memang cantik, bahkan sampai sekarang masih terlihat gurat kecantikannya. Tubuhnya yang aduhai membuat para laki-laki selalu melirik setiap kali ia lewat, dan para perempuan akan saling berbisik membicarakannya, atau menarik telinga suami-suami mereka yang getol menggodanya.

Jumariah muda pernah diusir dari kampung lantaran tabiatnya yang buruk.  Bahkan ibunya yang seorang guru mengaji pun acap kali menjadi bahan olokan tetangga karena tingkah sang anak. Jumariah pun tinggal di kota, merantau sampai bertahun-tahun lamanya. Tidak pernah pulang, hanya sesekali ia mengirimkan ibunya uang—yang tentu saja tidak pernah digunakan. Sampai akhirnya kematian ibunya lima tahun setelah kepergiannya dari kampung membuatnya pulang.

Ia menangis dan merasa sangat bersalah. Namun, tak lantas membuatnya bertobat. Jumariah muda kembali ke kota seusai pemakaman, dan tidak pernah kembali lagi. Rumah milik orang tuanya ditempati keluarga pamannya.

Hingga setahun lalu, jumariah kembali, pulang. Dengan keriput di wajah, tubuh yang tidak lagi aduhai, dan cerita di pundak yang masih diingat orang-orang yang seumuran dengannya. Bedanya, Jumariah pulang dengan pakaian yang tidak terbuka seperti dulu. Perempuan yang tidak lagi muda itu mengenakan kain batik panjang dipadu baju sepotong dan selendang panjang yang menutupi kepalanya. 

Rambutnya mulai memutih, dan giginya yang dulu utuh, indah bak barisan domba—putih bersih—kini tidak selengkap dulu. Orang-orang mungkin tidak akan mengenalnya jika tidak melihat tahi lalat di cuping hidung dan pipi sebelah kirinya yang mencolok.

Awalnya, perempuan yang memasuki usia lima puluh lima itu ditolak mentah-mentah oleh perempuan-perempuan yang suaminya pernah digoda, tetapi untunglah Kepala Desa yang dikenal bijaksana itu dapat meredam amarah yang sempat meledak di kantor desa.

Panggilan Nenek Jum mulai terbiasa didengar sejak, Atharik—anak keponakannya yang sekarang menjadi seorang janda lantaran suaminya menikah lagi itu—memanggilnya demikian. Anak delapan tahun itu tinggal bersama ibunya di rumah orang tua Jumariah, yang sehari-hari bekerja sebagai pembantu rumah tangga di rumah Kepala Desa. 

Jumariah sendiri sehari-harinya hanya di rumah, dan setiap azan berkumandang ia buru-buru pergi ke masjid tak jauh dari rumah. Orang-orang yang awalnya membenci, kini berbalik menyukainya. Nenek Jum mulai diajak ke pengajian mingguan di masjid kampung, dan kadang ke kampung sebelah, sampai ke acara kreativitas ibu-ibu setiap hari Minggu. Meskipun masih ada satu dua yang tidak menyukainya dan masih sering pula menggunjingnya.

Namun, Nenek Jum tidak begitu peduli. Ia sadar betul kalau dulu pernah melakukan kesalahan, dan ia memang sudah siap jauh-jauh hari akan cibiran orang-orang tentang dirinya sebelum memutuskan untuk pulang.

Namun, tidakkah seharusnya sebagai sesama kita harus saling mendukung niat baik seseorang?

Sebulan setelah kepulangannya, Nenek Jum mulai membuka usaha kue untuk membantu kehidupan Asri, keponakannya. Perempuan muda yang ditinggal pergi suaminya itu membuat hati Nenek Jum tersentil, teringat dulu ia sering merusak rumah tangga orang meski tidak berakhir di pelaminan. Namun, tetap saja ia merasa iba pada perempuan berparas ayu yang mulai terlihat keriput di wajahnya lantaran beban hidup.

Dari menjual kue itu ia mulai menyisihkan uang. Ada niatan berkurban untuk sang ibu yang dulu sering ia sakiti hatinya. Sama seperti keponakannya, ibunya dulu ditinggal nikah oleh ayahnya. Karena hal itulah dulu Nenek Jum tenggelam ke dunia malam untuk membalas perbuatan sang ayah. Namun, justru ia sendiri terjebak di dalamnya.

Awal-awal bulan Zulhijah tahun ini, Nenek Jum telah menyampaikan maksud hatinya kepada Asri. Perempuan muda yang baru menginjak usia tiga puluh tahun ini bersedia ke pasar untuk membeli hewan kurban. Nenek Jum senang sekali akan sifat Asri yang santun terhadapnya, meski mereka lama tidak bertemu. Ia seperti memiliki seorang putri. 

Nenek Jum langsung mengambil uang dari celengan plastik berbentuk ayam jago. Lalu membukanya dengan pisau dapur, hingga uang dengan nominal berbeda pun berhamburan keluar. Menurut perhitungan Nenek Jum, sedikitnya uang ini cukup untuk membeli seekor kambing.

Maka, bibi dan keponakan itu pun menghitung uang hingga larut. 

“Bi, ini cukup untuk membeli dua kambing. Untuk Bibi dan almarhum Nenek. Nanti Asri tawar harganya. Kebetulan Asri kenal baik penjulanya,” ucap Asri seusai mereka menghitung. Anaknya sudah tidur sedari tadi.

“Itu hanya tiga juta tidak sampai, Sri. Beli satu aja yang besar untuk ibunya Bibi. Sisanya kamu simpan untuk keperluan sekolah Atha.”

“Insyaallah cukup, Bi. Bukankah Bibi juga ingin sekali berkurban? Bibi pernah bilang, biarlah makan seadanya, yang penting bisa berkurban seikhlasnya?”

Nenek Jum diam. Benar, ia ingin sekali berkurban setelah mendengar ceramah ustaz di kampung sebelah. Di mana dalam sebuah hadis Nabi diterangkan bahwa: 

“Sesungguhnya atas tiap-tiap ahli rumah pada tiap-tiap tahun disunahkan berkurban”, (HR. Abu Dawud).

“Sudahlah, Bi, jangan dipikir lagi. Besok Asri pergi ke pasar, ya. Mudah-mudahan cukup. Insyaallah.”

Nenek Jum mengangguk. Tanpa terasa air matanya menetes. Ia terharu sekaligus bahagia. Semasa hidupnya dulu ia memang sering berbuat dosa dan maksiat, menghasilkan uang dari pekerjaan tidak halal, dan menjejali perutnya dengan uang tersebut. Jika Tuhan mau, bisa saja ia dimatikan di saat muda. Namun, sepertinya Tuhan memang menunggunya untuk bertobat, dan sekarang mungkin adalah jalannya menuju jannah-Nya.

**

Cerita tentang Nenek Jum masih tidak habis untuk diceritakan. Bahkan setelah kematiannya seusai salat Idul Adha. Nenek Jum ditemukan tergeletak di atas sajadah oleh Atharik yang hendak memanggilnya untuk pergi ke masjid melihat pemotongan hewan. Awalnya anak usia delapan tahun itu mengira Nenek Jum ketiduran karena ia tahu semalaman ibunya dan Nenek Jum sibuk membuat lontong daun pesanan tetangga. Namun, setelah cukup lama dibiarkan dan Atharik bermaksud mengajaknya lagi, posisi Nenek Jum masih sama. Bahkan saat dibangunkan pun Nenek Jum tidak juga bergerak. Padahal biasanya dalam satu atau dua kali panggilan di telinga, Nenek Jum akan langsung bangun.

Atharik mengadu pada ibunya, dan menjelang siang ini orang-orang kampung heboh saat diumumkan bahwa Nenek Jum meninggal seusai melaksanakan keinginannya untuk berkurban. Beberapa orang diutus untuk mengurus jenazah Nenek Jum di rumah duka. Beberapa pemuda diminta membantu menggali tanah kubur, beberapa lainnya diminta membawa jenazah ke masjid untuk disalatkan bakda Zuhur.

Minggu di hari Idul Adha ini orang-orang kembali heboh lantaran tercium wangi dari tubuh Nenek Jum. Tubuh yang dulunya kotor karena dosa yang menggunung, hari ini tampak bersih. Wajahnya tampak bercahaya, bibirnya menyunggingkan senyum seolah beliau benar-benar bahagia akan kematiannya.

Ibu-ibu berbisik-bisik, anak-anak gadis yang baru mengenal Nenek Jum dan tahu kisah hidupnya dari ibu-ibu mereka terisak. Pemuda-pemuda serta bapak-bapak yang mengurus pemotongan hewan kurban di lapangan samping masjid juga tak mau kalah menceritakan kisah Nenek Jum. Bahkan anak-anak kecil sebaya Atharik pun saling bercerita tentang kebaikan Nenek Jum yang sering membagi-bagikan kue dan mengajari mereka mengaji setiap selesai salat.

Benar, cerita tentang Nenek Jum tidak pernah habis untuk diceritakan. Bahkan setelah cerita ini selesai, mungkin kamu akan senang hati menceritakannya pada temanmu tentang Nenek Jum. Seorang wanita yang dulunya pendosa, yang diberi nikmat dengan keindahan akan kematiannya setelah ia bertobat.

Kisah Nenek Jum menyadarkan kita, bahwa tidak ada batas waktu untuk bertobat. Akan tetapi, alangkah baiknya jika disegerakan, sebab kita tidak pernah tahu kapan akan dipanggil Allah SWT. 

***

Aiyu A Gaara

Bumi Rafflesia, Idul Adha, 11 Agustus 2019

Headline

investasi