Amplop Pita Merah
"Bukan hanya orang kaya, kami--orang miskin pun berhak untuk menghirup udara bebas"
Aku mendesah pelan sambil menatap Kinaya dengan tatapan penuh selidik. Sudah dua hari ini dia memaksaku untuk mengikutinya membagi-bagi amplop dengan pita merah di simpang lampu merah. Aku tak pernah tahu isi amplop itu dan Kinaya tak pernah memberitahuku sedikit pun. Dia hanya berkata bahwa aku harus membantunya tanpa bertanya. Akan tetapi, kali ini aku memutuskan untuk menjadi seorang detektif dan menanyainya. Jujur saja, aku benci melakukan apa yang tidak kuketahui tujuannya.
Lagi-lagi Kinaya mengalihkan tatapannya ke luar jendela kedai es krim yang kami datangi sepuluh menit lalu. Dia tampak menatap jalanan dengan pandangan cemas. Entah apa yang dipikirkannya. Kinaya termasuk orang yang misterius, bahkan aku sering merasa bahwa dia itu tidak nyata.
“Hei, Ya, kamu belum menjawabku,” kataku.
Dia menatapku sebentar kemudian kembali mengalihkan perhatian ke jalanan lagi. Aku yang mulai kesal karena diabaikan kini memegang lengannya cukup keras. Dia meringis dan menatapku dengan pandangan bertanya.
“Jawab pertanyaanku dulu.”
“Ugh, lepaskan dulu, Saki. Sakit tau,” ringisnya, tetapi tidak membuatku iba.
“Tidak. Jawab dulu pertanyaanku. Kenapa kamu menyuruhku membagikan amplop dan apa isi amplop itu?”
“Iya aku jawab, tapi lepaskan dulu. Beneran sakit, Saki.”
Aku melepaskannya. Lalu dia mengusap pelan tangannya yang tadi kupegang hingga merah. Dengan tatapan sok galak dia menatapku, tetapi tetap saja, tatapanku saat ini lebih galak. Kinaya menunduk sebelum akhirnya membuka mulut.
“Itu untuk membantu Syabil,” jawabnya pendek yang benar-benar tidak memuaskan rasa penasaranku.
“Syabil itu siapa? Jawab yang jelas dong, Ya,” protesku.
“Syabil itu anak umur sepuluh tahun yang menderita kanker otak. Aku memberi mereka amplop yang berisi profil lengkap Syabil dan keluarganya. Berharap mereka mau menyumbangkan sebagian uangnya untuk anak itu.”
Aku mengernyit. Masih belum jelas dengan jawaban Kinaya. “Lalu apa istimewanya Syabil? Dia orang tidak mampu, begitu?”
“Bukan itu saja. Dia anak yatim piatu yang kini tinggal di perkampungan kumuh bersama bibi dan keempat saudarnya yang lain. Dia sudah sakit-sakitan sejak kecil tapi bibinya tidak memiliki uang untuk mengobatinya. Dua minggu ini aku membantunya dengan cara mengirimkan makanan, tapi aku merasa jika aku saja tidak cukup, jadi aku berinisiatif untuk meminta pertolongan orang lain. Yah, aku berharap hati mereka tergerak.” Kinaya meminum jus melon yang dipesannya.
“Lalu kenapa kamu tidak cerita dan malah menyuruhku tanpa aku tahu maksudmu?”
“Itu ... maaf. Aku tidak bermaksud begitu. Saat itu aku hanya tidak sempat cerita padamu, karena keadaan Syabil yang sangat kritis.”
Aku mengangguk. “Lalu bagaimana dia sekarang?”
“Masih dirawat dan menunggu dana bantuan. Aku sudah banyak mengajukan bantuan pada perusahaan ternama dan instalasi semacamnya, tapi sampai sekarang bantuan yang datang masih sedikit.” Kinaya memejamkan mata, lalu membukanya kembali secara tiba-tiba. “Kamu tahu? Syabil bahkan pernah diusir dari rumah sakit karena tidak memiliki uang untuk membayar kamar. Mereka jahat sekali, harusnya ‘kan rumah sakit mengutamakan orang sakit daripada biaya.”
“Hei, kamu pikir mereka tidak digaji dan bekerja secara sukarela saja? Dan lagi, memangnya bibi Syabil tidak punya kartu kesehatan?”
“Itulah, daerah perkampungan kumuh tidak mendapat pendataan.”
“Itu juga salahnya ‘kan, kenapa tidak mengurus melalui ketua RT?”
Kinaya mengangkat bahu. “Entahlah, mungkin mereka punya alasan. Pokoknya sekarang kita harus mengumpulkan uang untuk penyembuhan Syabil.”
“Kenapa kamu begitu perhatian dengan anak itu?”
“Karena dia mengingatkanku pada Kira, adikku yang meninggal di rumah sakit karena tidak ditangani dokter. Saat itu posisiku sama dengan Syabil, tidak memiliki uang. Aku tidak ingin ada nyawa yang mati sia-sia lagi hanya terkendala dengan uang. Tidak, Sa.”
Aku memegang tangan Kinaya, mengusapnya pelan.
“Aku mengerti. Aku akan membantu, kamu tenang saja. Jangan lupa, aku punya banyak kenalan. Dan lain kali kalau ada apa-apa kamu harus cerita bukan hanya memaksaku melakukan ini-itu.”
“Iya maaf, tapi kamu mau saja waktu aku suruh.”
“Itu karena aku sedang bosan dan tidak ada kerjaan,” timpalku seraya mengalihkan pandangan.
Kulihat Kinaya tersenyum. Aku suka sekali senyum Kinaya, dia begitu manis. Dan wajahnya yang teduh itu benar-benar menyejukkan. Wajar saja banyak orang yang menyukainya, dan aku beruntung menjadi salah satu teman terdekat yang dia punya. Yah, lagi-lagi harus kukatakan, meski terkadang aku merasa Kinaya itu tidak nyata.
***
Dua bulan sejak terakhir kali pembicaraan di kafe, kami telah berhasil mengumpulkan banyak uang untuk operasi Syabil. Bahkan sekarang kami sedang menggalang dana lagi untuk seorang anak pengidap lupus. Sebuah penyakit yang menurutku cukup langka.
Bersama komunitas kecil bernama Amplop Pita Merah, kami mulai mendatangi para pengendara di lampu merah sambil membagikan amplop berisi profil dan keadaan keluarga pasien yang akan kami tolong. Mereka dapat langsung mengembalikan amplop ke rumah sakit tempat pasien di rawat. Tentu saja aku sudah meminta bantuan seorang teman yang bekerja di sana untuk menyiapkan satu kotak kaca yang dikhususkan untuk orang-orang yang ingin menyumbangkan sebagian uang mereka.
Aku senang melakukan ini, setidaknya kami berusaha mewujudkan mimpi anak-anak yang merupakan penerus bangsa untuk tetap hidup dan menggapai impian mereka di masa depan. Aku tak peduli dengan komentar orang-orang yang mungkin menganggap kami pahlawan kesiangan. Bagiku, membagi sebuah harapan dan senyuman pada orang yang membutuhkan itu, lebih baik daripada berdiam diri tanpa melakukan apa-apa.
Jika harus menunggu bantuan pemerintah yang sibuk mengurus ini-itu, atau sibuk menyimpan uang rakyat ke dalam perut mereka, ah mimpi itu namanya! Entah kapan mereka akan benar-benar peduli pada rakyat kecil yang bahkan tak bisa menyuarakan isi hati.
Sebenarnya aku bukan tipe orang yang peduli pada sekitar. Namun, jika aku harus menjadi orang yang hanya berpangku tangan dan lebih senang berkomentar, maka aku lebih memilih untuk menjadi orang yang peduli. Sekalipun tidak memiliki kesempatan untuk menyuarakan isi pikiranku yang terkadang rumit, setidaknya aku bangga karena sudah menjadi bagian komunitas Amplop Pita Merah yang didirikan Kinaya atas paksaanku.
Aku senang melihat senyum Kinaya dan anak-anak itu.
Dan satu hal yang Amplop Pita Merah lakukan; kami sedang berusaha memiliki rumah kecil untuk anak-anak pulang di saat mereka putus asa dengan hidup. Kami akan mengajarkan bahwa setiap orang berhak hidup dan bermimpi. Tidak peduli apakah dia anak raja atau anak budak.
***
Bengkulu, 30 Juli 2019
Aiyu A Gaara, Penulis Bengkulu
