Skip to main content
Cerpen
Aiyu A Gaara penulis Bengkulu
24

Buket Bunga Roseline

by Redaksi
posted onJuly 27, 2019

“Sebab, yang diungkapkan bunga tidak melulu tentang cinta, tapi juga kasih sayang tulus.”

Tak ada yang berubah. Halaman buku hati ini masih sama; merindukannya. Namun, kenyataan menamparku. Ia tak di sini.

Ruang segiempat yang penuh dengan mawar tangkai itu, kini tampak sendu. Dinding merah jambu berhias stiker mawar merah, mulai terkelupas catnya di sana-sini. Seolah minta diganti baru.

Mataku menyapu ruangan yang dulu menjadi tempat favoritnya. Di mana ia asyik dengan komik-komik seri girly atau film-film romantis. Ada banyak poster anime di ruangan itu, dengan lampu warna-warni yang membuat kamarnya tampak lebih ramai. Terlebih, satu bagian dinding di belakang tempat tidurnya penuh dengan foto-foto yang disusun sedemikian rupa.

Tanpa sadar, kakiku berjalan masuk. Kemudian duduk di kursi santai sebelah jendela, menghadap langsung ke taman bunga mawar belakang rumah—tempat ia biasa duduk. Tanganku terulur pada buket bunga yang telah layu. Kuhela napas dalam. Seharusnya aku menggantinya seminggu sekali.

Kudekap erat buket itu. Tanpa terasa air mata kembali menetes.

♥♥

Rosaline memandangku galak. Hingga wajah manisnya terlihat semakin menggemaskan. Bibirnya mengerucut lucu, dengan dua alis yang saling bertaut.

Kuhela napas. Sungguh, aku paling benci keadaan begini. Pasalnya, Rosaline akan mendiamkanku selama tiga hari lebih, bahkan enggan menatapku meski kami berpapasan. Dan aku tak ingin merasakan hal itu, lagi.

“Oke. Aku lakuin,” kataku kemudian.

Seketika senyumnya mengembang. Berbanding terbalik dengan satu menit lalu yang terasa lama.

“Oke! Udah aku siapin vas-nya di kamar. Nanti Kakak isi tiap hari satu tangkai.”

“Iya, iya. Tiap hari satu tangkai.”

“Thank you, Kak Jo. Kakak memang yang terbaik,” ucapnya, mencium pipiku sekilas. Lalu beranjak menuju dapur sambil bersenandung kecil.

“Ada maunya aja baru memuji,” gerutuku.

Aku berjalan ke luar rumah, mengambil sepeda motor dari garasi, kemudian memacunya dengan kecepatan sedang. Danau Dendam Tak Sudah di kala sore hari menjadi tempat menenangkan jika keadaan hati atau pikiranku tidak baik. 

“Kenapa? Wajahmu kusut sekali.” Belly, pemilik kedai jagung baakar di seberang jalan menepuk pundakku pelan. Ia meletakkan pasananku—jagung bakar dan es kelapa muda—lalu duduk di sampingku sambil menyandarkan punggungnya ke kursi panjang yang berjajar di sepanjang danau.

Aku menatapnya sekilas, memandang jauh ke tengah danau. 

“Biasa. Rosaline!”

“Kenapa? Minta yang aneh-aneh lagi?” tanya Belly, ikut-ikutan memandang ke tengah danau. Mungkin ia teringat bahwa kami sering menangkap ikan di sana sewaktu sekolah dulu. Aku mengangguk. “Emang dia minta apa?”

“Satu tangkai mawar plastik tiap hari sampai hari ulang tahunnya nanti.”

“Buset, dah. Ulang tahunnya masih sebulan lagi, ‘kan?!” Aku mengangguk, lagi. “Kau sih, kenapa gak nyuruh dia pacaran. Jadi, dia gak minta ini-itu.”

“Ah, dia masih kecil. Masih kelas 1 SMA. Cewek umur segitu lagi rentannya. Aku gak mau dia kenapa-kenapa. Kau tau sendirilah, gimana cowok zaman sekarang,” kataku, melirik ke arahnya.

“Sialan! Matamu gak usah ngelirik ke aku.”

Aku tersenyum tipis. Lalu berkata, “Ya, pokoknya aku gak mau dia kenapa-kenapa. Biarin deh aku turuti apa yang dia mau, asal dia gak pacaran atau melakukan hal-hal aneh.”

Belly tersenyum. Menepuk pundakku sebagai keakraban kami yang sudah berteman sejak SMP.

“Kau emang kakak yang baik, Bro.”

♥♥

Besok adalah hari ulang tahun Rosaline yang ke tujuh belas. Selama sebulan terakhir kemarin, aku menuruti permintaannya untuk memberikan satu tangkai mawar setiap hari. Dan sekarang, mawar berwarna pink itu memenuhi setiap sudut kamarnya. Tampak indah, memang. Akan tetapi, untuk apa bunga sebanyak itu olehnya?

“Nih, bunga terakhir buatmu,” kataku, menyodorkan setangkai mawar padanya dari depan pintu kamar.

“Makasih. Kak Jo. Tapi, besok aku mau satu buket mawar pink. Yang asli! Dan Kakak gak boleh ambil dari kebun mawarku.”

“Apa? Buat apaan?”

“Buat ngisi meja itu,” Rosaline menunjuk meja kosong di sebelah jendela.

“Bukannya itu tempat kamu taruh buku atau camilan?”

“Ya, besok mau aku tambahin buket mawar juga. Awas ya, kalo Kakak gak kasih. Ya, udah, aku mau pergi latihan basket dulu. Dagh.”

Kupandangi kepergiannya dengan kening berkerut. Belakangan ini ia memang sedikit aneh. Jadi lebih baik dari biasanya. Mungkin karena permintaannya kuturuti.

♥♥

“Jo, ngapain?”

Suara berat Belly membuatku tersadar dari lamunan. Aku menoleh ke arahnya dengan tatapan sendu.

“Rose—”

“Udahlah, Jo, kau mesti ikhlas. Roseline pasti sedih liat kau begini,” potong Belly.

“Bel, harusnya aku pulang cepat waktu itu.”

Belly memegang pundakku pelan. Selama setahun ini, hanya Belly yang berada di sampingku. Memberi semangat atas kematian Roseline. Jika saja waktu bisa kembali, aku pasti bisa melihat senyum Roseline ketika kuberikan buket bunga itu.

Kecelakaan lalu lintas sepulang latihan basket merenggut nyawanya. Darah AB negatif yang langka membuat Roseline terlambat mendapat pertolongan, dan aku yang memiliki golongan darah sama tengah berada di kota sebelah untuk meliput berita. Maafkan aku, Dik.

***

Bengkulu, 27 Juli 2019

Aiyu A Gaara

Headline
Featured

investasi