Nasib Sekolahku
Pagi itu, udara perkotaan sedikit lebih muram dari biasanya. Aku bangun dan menyibak daun jendela kamar. Bau tumbuhan mulai anyir dan gegap pandangan tertuju ke rumah keduaku--sekolah tercinta.
Rumahku tepat di belakang SD 62. Berlantai dua hingga membuatku bisa melampaui pandangannya. Maklum, sudah sepekan dinding seng tertanam mengelilingi sekolahan kami. Kata Mama, momen belajar akan tidak bersahabat sampai Rahma benar-benar lelah menghadapinya.
Ya, namaku Rahmania Sastrawati, Murid SD 62 Kota Bangkahulu. Umurku sebelas tahun, lebih awal naik ke kelas enam. Mamaku bilang, aku termasuk anak yang cerdas, meski sejujurnya aku sendiri tak merasa demikian. Di usiaku sekarang, aku sudah paham betul mana yang benar sesuai kapasitas dan mana yang dilebih-lebihkan. Mama terlalu memanjakanku dan itu justru membuatku tidak nyaman.
Kulihat jam dinding menunjukkan pukul setengah enam. Aku bergegas ke kamar mandi dan langsung mengambil air wudu setelah terlebih dahulu menyikat gigi. Pintu kamar Mama masih tertutup, tetapi setelah kulihat dapur rupanya Mama sedang asik mencuci sayuran yang akan dimasak.
"Hei. Sudah bangun, Sayang?" Mama memergoki langkahku. "Sini dulu, Sayang. Mama ada kejutan buat kamu."
Kalimat itu membuatku luluh. Rasa penasaran melebihi apa yang kupikirkan. Mama dengan sifat periangnya memang selalu melakukan hal-hal ajaib. Seperti tahun kemarin, ia sengaja mengenakan kostum kelinci di hari ulang tahunku. Dan sekarang aku merasa ingin menebak apa yang akan dilakukannya. Maka aku pun berbelok menuju wanita paruh baya yang masih sangat cantik itu.
"Selamat hari lahir, Sayang." Tiba-tiba saja Mama memeluk dan mencium keningku sembari menyodorkan boneka kesukaanku--baby bear. Aku tersenyum senang, tentu saja. Mama adalah satu-satunya orang yang selalu bisa menciptakan senyum di hidupku.
"Oh, ya. Ini hari pertama kamu sekolah setelah hampir sebulan lebih libur. Kamu sudah siap?" tanya Mama yang selalu mengingatkanku agar rajin sekolah dan belajar. Mama sangat menginginkanku menjadi seorang dokter, seperti cita-citanya dulu yang tidak tercapai. Aku tak menjawab. Sebaliknya, aku masuk ke kamar, meletakkan boneka di atas nakas dan meneruskan niat awalku tadi.
Ada sesuatu yang membuatku tidak ingin ke sekolah, tetapi ingin belajar bersama teman-teman.
***
"Ma. Kenapa badanku gak enakan gini, ya?"
"Kenapa sayang. Kamu sakit?" Muka mama berubah pucat. Ia memandangiku dengan seksama. Memegang keningku lalu keningnya untuk merasakan apakah suhu tubuh kami sama atau tidak. "Gak panas. Masuk angin?"
Aku menggeleng. Tidak tahu. "Engga, Ma. Tapi entah kenapa perasaanku gak enak."
"Ya sudah. Kamu tidak usah masuk sekolah aja dulu, ya. Nanti Mama minta izin ke guru."
Aku menggeleng cepat setengah melotot.
Bagaimana mungkin aku tidak masuk sekolah di hari pertama sekolah? Sungguh tidak asyik, bukan?! Apa kata teman-teman nantinya?
"Masih mau tetap sekolah? Nanti kamu pingsan di sana gimana?"
"Rahma kuat. Aku pengen ketemu teman-teman."
Kulihat Mama mendesah pelan. Tanda bahwa ia menyerah dengan keputusanku.
"Ya, sudah. Tapi kamu minum vitamin dulu. Ayo." Mama menuntunku ke ruang makan. Kami sarapan nasi goreng telur bersama.
Setelah sarapan, Mama mengantarku sampai gerbang sekolah. Kucium punggung tangan Mama dan pipinya bergantian. Yang membuatku nyaman belajar di sekolah adalah ketika pertama kali masuk kelas baru dan Mama senantiasa mengantarku ke sekolah. Tak jarang ia menungguku, memperhatikan dari kejauhan. Meskipun sudah kelas enam, aku tetap tak malu. Apalagi dengan jarak sekolah dengan rumah yang hanya berjarak 150 meter.
Namun, keadaan tidak enak ini terus mengganggu, bahkan setelah bel berdering. Pertanda bahwa jam belajar telah dimulai. Di hari pertama ini kami sudah mulai belajar seperti biasa. Padahal biasanya selalu ada sesi menceritakan pengalaman di depan kelas. Aku bahkan tidak begitu memperhatikan pelajaran sebagaimana seharusnya.
Mataku tertuju pada dinding seng yang membuat sekolah kami seperti penjara. Belum lagi ada polisi yang berjaga di depan gerbang. Pemandangan yang belakangan sering kulihat dan membuat jengah.
Aku tidak mengerti sama sekali kenapa harus ada kejadian seperti ini. Bahkan beberapa temanku terlihat pucat. Mereka sama denganku, tidak memperhatikan pelajaran dan lebih fokus ke luar kelas. Seolah kejadian di sana lebih menarik daripada pelajaran sejarah.
"Ayo, semuanya perhatikan ke depan."
Suara Bu guru membuatku mau tak mau memalingkan pandangan. Aku menatap tulisan tangan di papan tulis kemudian mencatatnya. Namun, pendengaranku sengaja kufokuskan pada kegaduhan di luar.
Aku sangat penasaran sekali dengan kelanjutan sengketa lahan ini. Persis seperti di sinetron yang sering Mama tonton di televisi. Aku sering diam-diam melihat Mama menontonnya, sedangkan ia melarangku dengan mengatakan sinetron yang berkaitan dengan karma manusia itu belum pantas untuk anak seusiaku.
Aku mendesah pelan dan itu membuat Anisa, teman sebangkuku menoleh dengan pandangan bertanya. Aku hanya menggeleng kecil.
Tak lama, Anisa berbisik, "Ma, rasanya aku gak mau sekolah lagi di sini."
"Kenapa?" balasku tak kalah berbisik.
"Aku dengar dari Mama sekolah kita akan ditutup. Aku pengen pindah, tapi gak mau pisah sama teman-teman."
"Tenanglah, sekolah kita gak akan ditutup, 'kok!"
"Kamu yakin? Tuh lihat, sekolah kita aja udah dikelilingi seng. Serem. Kayak di penjara, dan aku serasa jadi pidana."
"Hush, ada-ada aja kamu. Udah, ah. Aku yakin sekolah kita gak akan ditutup!" tandasku mengakhiri obrolan tidak menyenangkan ini.
Aku kembali menyalin tulisan di papan, sementara beberapa temanku yang lain masih saja terpaku pada kejadian di luar kelas yang sangat berisik. Lebih riuh dari suara pukulan meja yang dilakukan anak laki-laki saat jam istirahat.
***
Pagi ini aku melihat wajah teman-temanku murung. Bahkan hampir setengah penghuni kelas tidak masuk. Bangku-bangku kosong, tetapi bukan membuat takut seperti di film horor, melainkan menguar aroma kesedihan.
Di luar semakin berisik. Selain polisi, ada juga si ahli waris tanah SD kami, wartawan, juga warga sekitar yang sengaja datang untuk melihat. Termasuk Mama. Aku bisa merasakan kehadirannya di sana.
Pelajaran matematika yang selalu kusukai jadi tidak menyenangkan. Guru yang mengajar pun sesekali melirik ke luar kelas. Terlihat wajahnya yang cemas. Entah karena apa. Tak lama Kepala Sekolah masuk, berbicara dengan guru lalu keluar lagi dengan kepala tertunduk.
"Anak-anak, ayo bereskan buku kalian, masukkan ke dalam tas. Kita belajar di luar ruangan, ya. Biar lebih segar dan tidak mengantuk."
Guru muda itu tersenyum, tetapi aku tahu ada raut kesedihan di sana. Alasan kami akan belajar di luar kelas pun tentu bukan karena ingin mendapatkan udara segar.
Saat aku dan yang lainnya sudah di luar, lapangan yang biasa dijadikan lapangan upacara dan olahraga itu ternyata telah rapi dengan bentangan terpal. Tak lama, satu persatu papan tulis dikeluarkan dari setiap kelas dan diletakkan di depan kami yang terlebih dahulu disuruh duduk.
Selain kelas enam, anak kelas lainnya pun bernasib sama. Setelah rapi, guru-guru yang tadi sebelumnya belajar pun kembali mengajar. Meski begitu aku merasa risih sekali dan tidak aman. Bisa saja terjadi baku hantam dan aku terkena dampaknya. Walaupun ada polisi dan satpol PP di setiap sudut, tetapi tetap saja. Terkadang manusia bisa lebih kejam dari apa yang kita pikirkan.
***
Entah sampai kapan kami akan belajar di luar kelas begini. Aku hanya berharap keadaan ini bisa cepat berlalu. Aku rindu ruang kelas yang rapi walau berisik dengan obrolan tak penting teman-teman. Aku juga rindu tawa mereka. Sejak kejadian ini, bahkan jauh sebelum ini, aku seperti kehilangan keceriaan di wajah mereka.
Keceriaan dan hak untuk bahagia seorang anak rasanya terenggut begitu saja. Aku tidak paham bagaimana orang dewasa bisa melakukan hal ini kepada kami--anak-anak. Apa mereka tidak punya anak hingga bisa bersikap begitu? Bagaimana jika anak mereka atau mereka ada di posisi kami sekarang? Aku yakin, sama seperti teman-temanku yang memilih tidak masuk sekolah, mereka juga akan merasakan tekanan.
Hari anak. Hari kebahagiaan untuk anak. Rasanya itu hanya simbol yang hanya diperjuangkan oleh kalangan tertentu saja.
***
Bengkulu 24 Juli 2019, Cerita hanya rekayasa
Aiyu A Garaa, Penulis Bengkulu
