Skip to main content
Cerpen
NW Bart Ilustrasi
57

Kubingkai Wajahmu Pada Daun Jendela

by Redaksi
posted onJune 3, 2019

Hari ketiga pada bulan Februari. Hujan pertama di bulan penuh cinta menyapa sore yang beranjak senja. Seperti sebelumnya, aku mengambil gitar milik almarhum Ayah. Memetiknya hingga menghasilkan nada yang tak kalah indah dari rinai yang jatuh menimpa atap genteng, kemudian luruh di jalan berbatu-batu di samping jendela.

Adalah lagu Hujan dari Utopia yang sering kumainkan. Lagu yang membawa kenangan antara kau dan aku. Mencipta rindu sejak nada pertama kupetik. Tanpa terasa, tirta itu mengalir di lembah pipi yang dihias jerawat kecil-kecil.

Aku mengusap pelan dengan punggung tangan. Tak mau jika salah seorang kakakku tiba-tiba masuk kamar, dan menemukanku menangis seperti hari-hari kemarin. Saat kau pergi tanpa pamit dan ucapan ‘sampai jumpa’ atau ‘selamat tinggal’.

Perlahan, kuletakkan gitar di samping jendela. Kemudian berjalan menuju meja belajar. Kurogoh laci paling bawah. Di mana terdapat kenangan kita yang kubiarkan tergeletak tanpa pernah ingin menguburnya. Album foto.

Aku mengambilnya, berikut buku Biru yang kau hadiahi bersama Kuroichi sewaktu ulang tahunku yang kelima belas. Buku yang menjadi arsip puisi cinta pun rindu yang kuciptakan tetiap hari di sepanjang satu tahun terakhir saat kau tak ada.

Pun hari ini. Sajak itu tercipta begitu saja.

 

Adakah kau ingat aku?


Hujan menyanyi di sepertiga hari

Menyisa genang di sepanjang jalan kenangan, kita

Di mana tawa pernah berderai, seiring canda terlontar

Aku-kamu yang mengekor cahaya mentari

Menyimpan impian masa depan bersama cinta, cita

Adakah kau ingat?

Aku menghela napas dalam. Memangku album kenangan kita. Di sampingku, Kuroichi duduk manis, seolah ingin melihat pula masa-masa indah yang pernah tercipta sebelum pisah menyapa.

Seperti sebuah piringan hitam. Memori berputar-putar di kepala. Menyentuh titik paling rawan, imajinasi. Seolah mengalir bagai air sungai yang hanyut menuju pantai, kenangan kita kembali. Di langit-langit ruangan. Di dinding-dinding kamar. Menyatu bagai film dalam sebuah bioskop. Dan hanya aku penontonnya.

***

“Raini, kenapa kau begitu menyukai hujan?” tanyamu saat kita tengah duduk di halte bus sepulang sekolah.

“Hahh? Kenapa kau masih bertanya juga? Bukankah sudah jelas dari namaku? Raini, artinya hujan.”

“Aku tahu. Tapi bukan soal nama saja, ‘kan?!”

Aku mengendikkan bahu. Tak acuh. Pandanganku tertuju pada jalanan yang penuh dengan mobil-mobil mewah dan motor-motor yang kebanyakkan dikendarai oleh pelajar sepertiku.

“Gak tau, suka aja.”    

“Mana ada alasan yang seperti itu.”

“Ada! Buktinya aku ke kamu,” balasku, seraya tersenyum lebar.

“Apaan kamu ke aku?”

“Bukan apa-apa,” kataku cepat. Kupalingkan kepala ke jurusan lain. Tentu saja aku tidak mau kau melihat wajahku yang merah seperti tomat.

“Kamu suka, ya?”

“Hahhh?"

Kembali aku menghadap ke arahmu yang kini memandang dengan senyum jail.

“Iya, ‘kan?!”

“Suka apa?”

“Ke aku. Ayo, ngaku!”

“Apaan sih? Gak!”

“Tadi bilangnya gitu.”

“Aku bercanda, tau. Gak usah ge-er. Lagian mana mungkin aku suka ke kamu. Orang yang paling nyebelin.”

“Sekaligus ngangenin, ‘kan?!” potongmu.

“Huu, pe-de!”

Aku menjulurkan lidah seperti biasa saat kau berhasil menggoda. Atau lebih tepatnya menjailiku tanpa kenal bosan.

“Memang iya. Nanti bakal kamu rasakan sendiri.”

Lagi-lagi aku menjulurkan lidah. Tanpa pernah berpikir bahwa ucapanmu itu benar adanya.

“Raini, aku gak suka hujan. Tapi aku akan tetap menemanimu saat melihat hujan,” katamu saat kita berpisah di ujung gang rumah.

Keningku mengernyit. Tidak biasanya kau aneh seperti ini. Akan tetapi seperti di halte tadi, aku bersikap tak acuh padamu. Tanpa pernah tahu bahwa itu kalimat terakhir yang kau ucapkan.

***

“Rai, ada tamu!”

Suara cempreng kakak perempuanku membuyarkan lamunan tentangmu, dan mengagetkan Kuroichi. Gadis tambun itu langsung melompat ke atas tempat tidur. Aku tersenyum kecil melihat tingkahnya yang lucu.

“Iya, bentar,” sahutku, seraya beranjak. “Kau tunggu di sini, Ichi.”

Seolah mengerti ucapanku, Kuroichi membaringkan tubuhnya di antara boneka-boneka. Sedangkanku berjalan malas ke luar kamar. Aku masih ingin mengenangmu!

“Siapa?” tanyaku pada Kakak yang tengah menonton televisi.

“Kurir! Ahahaha. Makanya jangan kebanyakkan di kamar. Sini, nonton!”

Terdengar tawa bahagianya. Wajahku langsung menekuk, kemudian berbalik menuju kamar. Aku lupa, gadis yang hanya beda usia dua tahun dariku itu adalah orang yang tak kalah jail sepertimu.

Lagi, aku duduk di pinggir jendela. Memandang rinai hujan yang perlahan mereda. Pun wajahmu yang semakin samar untuk kuingat.

“Semoga kau masih ingat aku, Reiz.”

***

Bumi Rafflesia, 13 Februari 2018

Aiyu A Gaara adalah gadis asal Bumi Rafflesia. Aktif di Komunitas Menulis Bengkulu. Seorang Novelis. Penikmat hujan, cokelat, dan sepi abadi. Dua karyanya telah terbit yaitu, Bulan Separuh (Ujwart Publisher) dan Di Perpotongan Senja (Penerbit NW Bart). Dapat dihubungi lewat akun facebook Aiyu Agaara Lestari atau instagram Aiyu_Agaara. Salam literasi.

Headline
Popular

investasi