Skip to main content
Ekonomi
Ekonomi digital
100

Akademisi : Ekonomi Kreatif dan Transformasi Digital

by Redaksi
posted onJuly 24, 2019

Bengkulu, Sibernews.co - Ekonomi  kreatif adalah sebuah konsep di era ekonomi baru yang mengintensifkan informasi dan kreativitas dengan mengandalkan ide dan pengetahuan dari sumber daya manusia sebagai faktor produksi yang utama. Konsep ini biasanya akan didukung dengan keberadaan industri kreatif yang menjadi perwujudannya. 

Seiring berjalannya waktu, perkembangan ekonomi sampai pada taraf ekonomi kreatif melalui proses yang sangat lama. Dunia dihadapi dengan konsep ekonomi informasi yang mana informasi menjadi hal yang utama dalam pengembangan ekonomi. Wacana digitalisasi memang saat ini harus sudah semestinya disiapkan. Terlebih, era 4.0 bukan saja menyasar kepada dunia teknologi dan pengolahan sumber daya, namun pertanian dan industri perdagangan yang mengacu pada ekonomi kreatif, masa datang sudah diyakini bakal hijrah ke arah digital.

Dengan hadirnya konsep ekonomi kreatif, manusia mulai dihubungkan dengan timbal balik antara internet - manusia, internet - manusia - produk, dan internet - manusia- produk - kreativitas. Di mana muara dari hasil produk kita adalah penjualan basis online.

John Howkins dalam bukunya The Creative Economy: How People Make Money from Ideas pertama kali memperkenalkan istilah ekonomi kreatif. Howkins menjelaskan ekonomi kreatif sebagai "kegiatan ekonomi dalam masyarakat yang menghabiskan sebagian besar waktunya untuk menghasilkan ide, tidak hanya melakukan hal-hal yang rutin dan berulang. Karena bagi masyarakat ini, menghasilkan ide merupakan hal yang harus dilakukan untuk kemajuan." 

Memang tidak ada penekanan modernisasi distribusi yang melibatkan interaksi internet. Namun dengan didorongnya  lapangan pekerjaan yang mulai sulit didapat, juga lahan industri yang kian marak, berakibat persaingan antar pelaku industri harus benar-benar sehat juga memperhatikan aspek kebijakan. Peran digital adalah sebuah inovasi dari kebijakan tersebut.

Pengembangan Ekonomi Kreatif Indonesia 2009-2015 lalu, ekonomi kreatif didefinisikan sebagai "Era baru ekonomi setelah ekonomi pertanian, ekonomi industri, dan ekonomi informasi, yang terintensifkan informasi dan kreativitas dengan mengandalkan ide dan pengetahuan dari sumber daya manusia sebagai faktor produksi utama dalam kegiatan ekonominya." 

Pelaku usaha rumahan atau pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) sudah semestinya mulai memikirkan bagaimana berjualan tanpa mengenal tempat dan waktu. 

- Jual Beli Online dan Konsepsinya

Transaksi jual beli barang adalah salah satu kegiatan bisnis yang paling umum dan paling sering terjadi. Kebutuhan hidup yang semakin meningkat dan jumlah masyarakat yang juga semakin banyak, membuat transaksi jual beli semakin meningkat dan semakin mendesak dari tahun ke tahun. Oleh karena itu diperlukan wadah yang dapat mempermudah penjual untuk mempublikasikan dan mempromosikan dagangannya pada para pembeli, sehingga transaksi antara penjual dan pembeli dapat berjalan dengan lancar.

Walaupun saat ini semakin banyak bermunculan website-website yang menyediakan sarana transaksi jual beli secara online. Namun masyarakat yang memiliki mobilitas tinggi dan memiliki kesibukannya masing-masing, tetap kesulitan dalam melakukan transaksi jual beli. Hal ini dikarenakan sebagian besar website tersebut diperuntukkan bagi pengguna internet melalui desktop, sehingga transaksi jual beli menjadi terhambat dan tidak dapat dilakukan dari mana saja. Padahal dengan tingginya aktivitas dan mobilitas masyarakat, masyarakat membutuhkan sarana yang lebih mudah, praktis dan efisien, sehingga masyarakat dapat melakukan transaksi di manapun dan kapanpun. 

Sebuah terobosan tersebut harus sudah disiapkan matang untuk menghindari kesinambungan antar masyarakat. Dari sisi kesediaan produk ekonomi kreatifnya, juga konsepsi digital agar dapat diakses secara menyeluruh oleh masyarakat.

Yenti

- Sebuah Persiapan Menghadapi Era Digital

Perkembangan bisnis jual beli online (e-commerce) di Indonesia dinilai menjadi solusi dalam meningkatkan ekonomi masyarakat bawah. Sebab melalui e-commerce, seluruh masyarakat bisa mendapatkan akses yang sama dalam memasarkan produknya.

Yenti Sumarni, MM., Akademisi IAIN Bengkulu, menyikapi era 4.0 ini, masyarakat Bengkulu harus lebih siap dalam mengambil langkah bijak mengembangkan bisnisnya. Tidak hanya melalui bisnis konvensional saja, tapi sudah harus melaju ke arah bisnis online.

"Ekonomi kreatif jika disandingkan dengan gagasan inovasi, tak hanya meringkas waktu tapi juga menyebarkan produk secara menyeluruh dan lebih efektif. Dengan konsep ini, saya mau semua pedagang konvensional mulai memasarkan produknya melalui bisnis online. Terlebih dengan potensi alam dan ragam kreasi yang dimiliki masyarakat Bengkulu. Jelas dengan memasarkannya secara online, ini bakal lebih cepat mendapat keuntungan juga efektivitas." ujarnya.

"Harusnya, produk UMKM atau produk kerajinan tradisional Bengkulu bisa masuk ke pasar digital. Di mana tidak ada batasan di sana dalam melakukan transaksi." lanjutnya.

Selain itu, sebuah alasan saat kita melihat peluang bisnis ini. Perkembangan bisnis e-commerce juga terbukti mampu mendekatkan layanan keuangan kepada seluruh lapisan masyarakat (inklusi keuangan). Sebab, dengan menjadi mitra e-commerce, transaksi keuangan masyarakat khususnya pelapak akan terekam dengan baik sehingga menjadi pegangan dalam mendapatkan permodalan dari perbankan. 

***

Yenti Sumarni, MM., Dosen IAIN Bengkulu Fakultas FEBI.

Headline

investasi