Diskusi Publik, Edwar Suharnas : 'Adaik Basuku Bela Suku, Adaik Bakampuang Bela Kampuang'
Sibernews.com - Diskusi publik Ikatan Mahasiswa Piaman Raya (IMAPAR) kali ini mengangkat tema 'Langkah konkret Menghadapi Permasalahan Organisasi Mahasiswa Kedaerahan Pasca Pandemi'.
Diskusi yang dilaksanakan di Aula Gedung Rektorat Universitas Prof Dr Hazairin SH kota Bengkulu ini mendatangkan tokoh dari berbagai elemen, mulai dari Dosen hingga senator yang berasal dari Bengkulu.
Ketua Umum IMAPAR, Dani Fazli sebagai pemantik diskusi menyampaikan, sejak awal pandemi organisasi mahasiswa banyak mengalami kesulitan dalam beradaptasi.
"Berawal dari adaptasi teknologi di masa pandemi, kami harus terus berinovasi di masa pasca pandemi untuk terus memanfaatkan teknologi yang sudah diterapkan," pantik Dani.
Saat diskusi berjalan, salah satu peserta mengajukan pertanyaan mengapa ada organisasi mahasiswa Minang lainnya padahal sudah ada organisasi mahasiswa Minang sebelumnya.
Pertanyaan tersebut dijawab oleh Wakil Ketua I DPW Perkumpulan Keluarga Daerah Piaman (PKDP) Provinsi Bengkulu, Edwar Suharnas.
"Itulah ragam perbedaan yang ada di Indonesia. Berbeda bukan berarti terpecah. Semboyan Bhineka Tunggal Ika yang menjadi semboyan Indonesia membuktikan bahwa begitu beragamnya suku yang ada di Indonesia," jelas Edwar.
Edwar juga menjelaskan bahwa organisasi IMAPAR mengangkat satu Suku yakni Piaman (Pariaman, red).
"Kalau suku Minang itu, kan luas, ya. Nah, IMAPAR ini mengangkat salah satu suku atau marga yang ada di Minang, yakni Piaman. Kalau bahasa kampungnya ada kalimat 'Adaik Basuku, Bela Suku. Adaik Bakampuang, Bela Kampuang", tambah Edwar Suharnas.
Edwar berujar, diskusi publik yang dilaksanakan kali ini berjalan dengan penuh dinamika, dan membuktikan bahwa mahasiswa yang tergabung dalam IMAPAR telah berproses dengan baik.
"Hal ini membuktikan bahwa mahasiswa tidak hanya sekedar menyelsaikan tugas kuliah yang diberikan dosen. Namun juga aktif dalam bepikir dan mengembangkan diri," tanggap Edwar.
Edwar Suharnas berharap, kegiatan produktif seperti ini akan terus dilanjutkan sehingga mahasiswa memiliki dua potensi skill yakni hard skill dan soft skill.
"Hardskill dan soft skill tersebut bisa didapat melalui organisasi. Semoga dengan berdirinya organisasi ini, dapat menjadi wadah bagi mahasiswa Pariaman mengembangkan diri untuk mendapatkan dua potensi skill tersebut," tuturnya. (bks)
