Skip to main content
Ragam
Ilustrasi Ayu A Gaara
27

Diary Ibu

by Redaksi
posted onJune 30, 2019

“Air mata adalah perlambang kata yang tak sempat diucapkan bibir dan didengarkan telinga. Ia tetesan hangat pelepas sesak yang memenjara dalam dada.

Pagi ini, kucumbui lagi buku diary milik seseorang yang kupanggil Ibu. Tulisan tegak bersambung yang sulit kubaca sewaktu masa sekolah dulu, kini mulai kupahami. Di sana tersimpan cerita sejak beliau dinikahi oleh lelaki yang kini tak ingin kusebut namanya. Tentang kehidupannya setelah menikah, dan setelah kelahiranku. Juga tentang bagaimana beliau menghidupiku setelah lelaki yang dicintainya itu pergi dengan wanita lain. Ah, sungguh tak bisa kubendung air mata ini.

“Kamu menangis lagi, Sayang.”

Sebuah suara mengagetkanku. Segera kutolehkan kepala, di sana berdiri Mas Rian. Seseorang yang menjadi imamku sejak setahun terakhir. Lelaki gagah dan penyayang itu perlahan menuju ke arahku. Membelai rambutku pelan.

“Rindu Ibu lagi, ya?”

Aku mengangguk lemah. Kupeluk buku usang yang dimakan waktu itu. Salah satu peninggalan Ibu yang paling berharga selain nasihat-nasihatnya.

“Kita ziarah ke makamnya, mau?” tawar Mas Rian yang langsung membuatku mengangguk senang.

Ia tersenyum melihat binar di mataku setelah kalimat ajakan itu. Katanya aku seperti anak kecil yang jika diberi permen atau es krim akan langsung berhenti menangis. Aku mengangguk saja, tidak ingin berkomentar. Padahal biasanya aku akan membalasnya dengan kalimat lain yang akhirnya sama-sama membuat kami tertawa dalam pelukan.

“Siap-siaplah. Aku tunggu di ruang tamu,” ucap Mas Rian lagi.

“Sekarang?”

“Iya, Sayang.” Kini, dikecupnya pipiku pelan sambil tangannya mengusap air mata yang jatuh. Ah, menenangkan sekali.

Aku sangat beruntung menjadi  wanitanya. Sejak hari kematian Ibu, Mas Rian adalah satu-satunya orang yang selalu ada untukku. Berusaha mencipta tawa yang entah kuletakkan di mana. Ia yang sabar membujukku untuk keluar rumah dan berbaur dengan teman-teman yang tidak kalah mencemaskan keadaanku. Ia pula yang setiap sore selalu mengajak melihat matahari terbenam di tepi pantai, bercerita apa saja agar aku mau bicara.

Ya, ia lelakiku. Yang hari ini dan nanti akan kulayani sepenuh hati.

***

Kuburan itu masih tampak sama sejak dua tahun lalu dibuat. Hanya saja sekarang terlihat lebih rimbun karena banyak rumput di sekitarnya. Padahal baru sebulan lalu kuziarahi makam Ibu, ketika aku mengandung anak lelaki hebat yang berdiri di sampingku kini.

Mas Rian yang sudah menyiapakan arit sejak dari rumah tadi mulai membersihkan rumput-rumput itu. Tak lama setelah kuburan dibersihkan, aku membaca doa untuknya. Tak lupa bercerita tentang kehidupan rumah tanggaku yang bahagia.

“Kita pulang, Sayang,” bisik Mas Rian, setelah cukup lama aku selesai dan masih saja memandangi batu nisan Ibu.

Aku mengangguk. Kutaruh botol air yang kugunakan tadi. Perlahan, kutinggalkan kuburan yang sudah terhias cantik dengan bunga warna-warni. Ibu pasti senang karena telah dikunjungi, ucapku dalam hati.

“Mas, kita ke Danau Tarusan Kamang dulu, ya,” pintaku. Aku ingat, dulu Ibu sering mengajakku ke sana. Dan, setelah Ibu tiada, aku yang sering mengajak Mas Rian ke sana.

“Boleh, sudah lama juga kita tidak ke sana.”

Aku mengangguk senang. Ah, lelakiku ini entah kenapa selalu membuatku merasa jatuh cinta dan nyaman. Seluruh perhatian yang diberikan benar-benar membuatku tak bisa jauh darinya.

***

Kami sampai ke Danau Tarusan Kamang setelah dua puluh menit perjalanan. Danau ini menjadi topik pembicaraan nomor satu bagi masyarakat setempat, tepatnya tanah Agam. Bertahun-tahun lamanya topik ini tak pernah hilang. Bahkan menurun dari satu generasi ke generasi lainnya.

Bukan seperti danau indah dengan cerita legenda pada umumnya yang membuat danau ini menjadi topik pembicaraan. Akan tetapi, karena keanehannyalah. Ya, aku tahu cerita ini dari Ibu, dan Ibu mengetahuinya dari ibunya—nenekku. Di danau inilah Ibu bertemu dengan lelakinya.

Katanya, danau ini sewaktu-waktu bisa menjadi hamparan padang rumput hijau yang luas. Tak ada satu pun orang yang tahu kapan hal ini terjadi. Beberapa orang setempat hanya mengatakan, setiap air danau akan muncul atau keluar, selalu terdengar letusan dari kaki bukit. Terkadang seperti suara ketel air panas, dan tiga hari kemudian air mengalir dari balik lubang-lubang batu kapur di kaki bukit sekitar danau.

Dulu, sewaktu aku masih sekolah di bangku SMP, Ibu sering mengajakku kemari. Sekadar duduk-duduk menikmati panorama danau atau sekali waktu hamparan padang hijau yang luas. Dan sekarang, kunikmati lagi keindahan danau ini bersama Mas Rian.

“Adiak nak pesan apo?[1]” tanya perempuan penjaga kedai yang mendekati kami.

“Kelapo mudo kek jagung bakarnyo sajo, Uni,[2]” jawabku sambil melempar senyum.

“Iyolah, tunggu sabantar, yo.”[3]

Duduk menikmati keindahan alam ini membuat sedihku perlahan hilang. Tarusan Kamang memang menjadi salah satu alternatif pengobat rindu. Setidaknya di sini, tersimpan banyak kenangan bersama Ibu. Wanita yang begitu tegar menjalani hidupnya.

Dulu, di sini seringkali Ibu memberiku nasihat. Mulai dari menerima kenyataan hidup dan berusaha menjalaninya dengan sebaik mungkin. Sebab, setiap apa yang kita jalani telah digurat oleh-Nya sewaktu berjanji untuk hidup dulu.

Terbayang aku akan kebersamaan dulu ….

“Ingat, ya, Nak. Jangan pernah menggunakan emosimu dalam menghadapi masalah. Nanti, ketika kamu berumah tangga, berikan yang terbaik untuk suamimu. Patuh dan nurut, tapi ingatkan dia juga kalau melakukan salah.”

“Seperti Ibu?” tanyaku dengan kening mengernyit. Ibu mengangguk pelan, sebuah lengkungan manis dari bibirnya kini menghias wajahnya yang kian kurus. Termakan usia juga luka.

“Tapi, kenapa Ayah pergi? Padahal Ibu wanita baik.” Aku menunduk dalam. Tak tahan rasanya bila tidak menangis. Namun, aku tak ingin pula melihat wanita di sampingku ini bersedih.

“Itu pilihan Ayahmu. Sudahlah, Ibu tidak apa-apa,” jawabnya sambil mengusap pelan rambutku yang terurai.

“Sayang, gundukkan tanah seperti pulau di tengah danau itu masih ada,” gumam Mas Rian membuatku tersentak.

“Eh?”

“Kamu melamun lagi,” katanya seraya menarik hidungku. “mengingat Ibu, ya?”

Aku mengangguk malu. Pelan, ia rengkuh aku dalam pelukkannya. “Menangislah sekali lagi, tapi janji, besok kamu harus tersenyum untukku,” bisiknya yang kubalas dengan anggukkan dari balik bidang dadanya.

Lagi. Air mataku luruh untuk yang kesekian kali di hari ini. Aku benar-benar rindu pada Ibu.

***

Bengkulu, 30 Jui 2019

Aiyu A Gaara, Cerpenis Tinggal di Bengkulu, Aktif di Komunitas Menulis Bengkulu


[1] Adik mau pesan apa?

[2] Kelapa muda dan jagung bakarnya saja, Mbak.

[3] Iya, tunggu sebentar, ya.

 

Headline

investasi