Baju Lama Rasa Baru
Tiada yang berbeda Idulfitri tahun ini dengan tahun sebelumnya. Tak ada baju baru atau apa-apa yang dikenakan serba baru. Baju yang Risa kenakan hanyalah baju yang dibelinya menjelang Lebaran dua tahun lalu.
Risa yang kini menginjak usia enam belas tahun hanyalah seorang anak dari penjual bakso keliling. Ibunya bekerja sebagai asisten rumah tangga dengan penghasilan yang tak seberapa. Jangankan untuk membeli baju baru, menjaga dapur tetap mengepul saja sudah berupaya setengah mati, itu pun dengan lauk tahu, tempe dan telur. Tidak jarang, makan malam keluarga diisi dengan bakso sisa hasil jualan hingga sore untuk menekan biaya pengeluaran serta agar tidak mubazir.
“Bagaimana? Risa cantik, kan?” tanyanya ringkas pada sang ayah.
Pak Budiman terdiam sejenak. Dalam hatinya, berurai air mata karena terakhir kali ia bisa membeli baju untuk anak tunggalnya adalah pada Lebaran dua tahun lalu, kala ia masih bekerja sebagai buruh di pabrik kosmetik sebagai operator mesin produksi area filling. Tepat dua bulan sejak saat itu, perusahaan melakukan pemutusan kontrak kerja, Pak Budiman adalah salah satu yang terdampak atas kebijakan tersebut.
“Cantik, Nak. Kamu tetap cantik,” jawab sang ayah singkat.
Pak Budiman hanya menyungging senyum kecilnya. Ia tidak mengira jika putrinya senang dengan baju lamanya. Berbeda dengan tahun lalu, saat Risa sempat bersedih karena menjelang Lebaran belum memiliki baju baru.
***
Siang tadi Risa hanya berdiri di depan lemari bajunya. Tangannya tak letih menggeser baju-baju yang digantung satu per satu. Sesekali diambilnya pakaian yang masih berada pada gantungan baju. Sudah empat setel baju yang diambil, diletakkannya di atas kasur.
“Ya Tuhan, aku harus pakai yang mana nih.” Risa memandangi empat setel pakaian yang didapatinya.
Terbayang cerita kedua teman karibnya yang telah memiliki baju baru untuk Lebaran nanti. Lina yang sebangku dengannya sudah memiliki atasan merah muda cerah, sesuai dengan warna kesukaannya dan berhiaskan tiruan permata yang berkilauan bila terkena cahaya. Rani yang bertetanggaan selang tiga rumah juga sudah memperoleh baju tunik berwarna krem lengan panjang bermanik-manik biru.
Pandangan mata Risa kembali tertuju pada tempat tidur. Tidak ada satu pun yang baru. Baju terbaru hanyalah gaun putih yang diperoleh pada Lebaran 1438 Hijriah. Tidak ada pilihan lain, pilihan pun jatuh pada gaun putih itu.
“Risa, sudah jam tujuh kurang lima, kamu gak siap-siap ke masjid?” Terdengar suara Ibu mengingatkan sudah saatnya bergegas untuk sembahyang Isya dan Tarawih.
“Sebentar, Bu. Ibu duluan saja. Nanti Risa nyusul,” jawabnya sembari segera merapikan baju-baju yang terjajar di atas kasur, takut ibunya masuk.
Perjalanan menuju masjid yang hanya berjarak tiga ratus meter dari rumah terasa begitu lama. Gadis berambut sebahu itu tampak kurang bersemangat karena pikirannya masih tertuju pada baju baru yang belum dimilikinya. Namun, meminta kepada ayah dan ibunya percuma saja, hanya akan memberatkan keuangan keluarga.
Minggu lalu, kontrakan yang ditempati sudah didatangi pemilik rumah untuk menagih utang sewa selama lima bulan. Ayahnya baru sanggup membayar tiga bulan. Kalau membeli baju baru, yang ada semakin memperburuk riwayat pembayaran utang orang tuanya di kemudian hari.
Dari jarak lebih kurang seratus meter di mana Risa berada, sudah terdengar suara Iqamat menandakan salat Isya segera dimulai. Risa masih juga berjalan pelan menunduk seperti kehilangan gairah.
“Sa, kenapa kamu menunduk gitu jalannya, sudah iqomat tuh.” Tiba-tiba ada yang menepuk bahu Risa dari belakang.
“Lho Ibu, kok masih di sini? Bukannya tadi Ibu sudah jalan duluan?” tanya Risa kaget.
“Iya tadi Ibu lupa membawa tasbih peninggalan kakekmu. Tau sendiri kan kalau tasbih itu selalu Ibu bawa setiap ke masjid. Makanya Ibu tadi balik ke rumah sebentar. Eh, rupanya kamu sudah berangkat tanpa mengunci pintu. Untung tidak kemalingan rumah kita.”
“Astaghfirullah. Maaf, Bu. Risa lupa."
“Ya sudah. Risa, Ibu minta maaf ya, Lebaran kali ini Bapak belum bisa belikan kamu baju baru seperti tahun kemarin. Pasti kamu masih kepikiran”
“Gak kok, Bu. Risa gak apa-apa. Toh masih ada baju Risa yang masih bagus”
“Jangan bohong, Ibu tau kamu. Tadi Ibu ke kamarmu, memastikan kamu sudah berangkat atau belum. Lalu Ibu lihat baju-baju di atas kasur. Pasti kamu habis milah-milah baju untuk Lebaran, 'kan?!"
Risa hanya terdiam. Apa yang melintas di pikirannya saat ini ternyata sudah diketahui sang ibu. Keduanya melanjutkan perjalanan ke masjid untuk menunaikan salat Isya dan Tarawih.
“Dalam berbagai hadist Nabi Muhammad SAW, tidak ada keharusan mengenakan baju baru saat Hari Raya. Cukup kenakan pakaian terbaik yang dimiliki. Yang paling utama dari semua itu adalah hati yang baru dan bersih setelah menjalani ibadah bulan Ramadan,” tegas Ustaz Zulkarnaen saat ceramah salat tarawih malam ketiga puluh.
Risa yang duduk di barisan belakang terheran dengan ucapan sang ustaz. Realita yang ada, setiap orang justru berburu mendapat baju baru untuk Lebaran. Bahkan ada yang bilang, Lebaran tanpa baju baru itu seperti bukan Lebaran.
***
“Baju kamu bagus, Ris. Pasti mahal ya harganya?” tanya Lina yang sedari tadi memperhatikan renda di gaun Risa.
“Ah gak juga kok, emang bagus di apanya, sih?” Risa bertanya balik.
“Itu lho, renda di gaun kamu bagus, aku suka polanya. Gak pernah aku lihat yang kayak gitu. Beli di mana?”
“Ooh. Tapi ini kan baju lama, aku beli dua tahun lalu. Udah kupakai Lebaran tahun lalu juga, kamu kan udah lihat atau ... karena kali ini aku pakai hijab tertutup ya?”
“Belum ah, Ris. Beneran deh. Baru Lebaran hari ini aku lihat. Gak ngaruh kemarin-kemarin kamu gak pakai jilbab sama hari ini kamu yang pakai jilbab. Yang pasti, aku baru lihat baju kamu yang ini, bagus banget”.
Risa tersenyum saja. Sejak ceramah ustaz Zulkarnaen dulu, Risa memutuskan mengenakan hijab di hari ketiga puluh Ramadhan 1439 H. Risa seolah lupa dengan hasratnya memiliki baju baru saat Lebaran. Ceramah itu mengingatkannya terhadap janjinya tahun lalu, suatu saat harus menutup auratnya dengan berhijab. Baginya, selagi masih di bulan Ramadan adalah saat yang tepat, apalagi semangatnya dikuatkan dengan ceramah Ustaz Zulkarnaen untuk memperoleh hati yang lebih bersih.
***
“Bagaimana, Ayah? Risa tetap cantik, kan?” tanyanya pada sang ayah, mengulang pertanyaan sebelumnya.
“Cantik, Nak. Cantik sekali,” dijawab kembali oleh sang ayah singkat.
“Ah Ayah, kenapa datar gitu jawabnya. Udah, Yah, baju ini masih bagus banget kok. Risa seneng makainya. Gak usah beli baru,” ungkap Risa sambil menatap baju yang dibelinya saat Lebaran dua tahun lalu.
Berbeda dengan Ramadan tahun lalu yang membawanya berhijab, Ramadan tahun ini Risa berhasil menuntaskan khataman Qurannya 30 juz selama 30 hari di bulan suci, suatu hal yang tidak pernah dicapai sebelumnya.
“Oh ya, jilbab yang Ayah kasih bagus banget, Risa suka dengan renda bunga-bunganya di pinggir,” katanya lagi.
Pak Budiman kembali menyungging senyum kecilnya. Teringat olehnya upaya Risa rajin mengaji setiap setelah salatt fardhu untuk menuntaskan khatamannya. Namun, ia belum dapat menghadiahkannya baju baru, hanya jilbab paling mahal yang dijual dari pedagang kaki lima sekitar stasiun Cakung seharga lima puluh ribu.
Risa melangkah mantap menuju lapangan tempat diselenggarakannya salat Idulfitri 1440 H. Di perjalanan, ia bertemu dengan Rani.
“Risa, baju kamu bagus,” kata Rani yang sedari tadi memandang baju yang dikenakan Risa.
“Makasih, tapi ini baju lama kok. Udah dua tahun lalu,” Risa menanggapi.
“Oh ya? Tapi bagus banget. Seperti masih baru.” Rani seolah tidak percaya.
Risa duduk bersebelahan dengan Rani pada barisan ketiga jamaah perempuan salat Idulfitri. Usai salat Ied ditunaikan, seorang pria bergamis putih dengan corak abu-abu di bagian bawah kerah hingga atas perut yang tiada lain adalah khatib Idulfitri naik ke atas mimbar.
Risa tampak kaget dengan pakaian yang dikenakan pria yang kini sudah berdiri di atas mimbar sambil membetulkan posisi Mic yang terlalu rendah. Pikirannya seketika tersadar dengan ceramah Ustaz Zulkarnaen pada malam ketiga puluh Ramadann tahun lalu. Tidak ada yang berbeda dengan gamis itu, Risa ingat betul karena sedari awal ceramah hingga akhir ia ikuti dengan saksama, tidak terkecuali dengan pakaian yang dikenakan sang Ustaz. Ceramah itulah yang membangkitkan tekad Risa mantap berhijab. Kini, gamis itu kembali tampak oleh Risa di hari yang penuh kemenangan ini.
Ustaz Zulkarnaen membuka khutbah dengan beberapa ayat Al-Quran dan sebuah perkataan Imam besar Baghdad, Ibnu Rojab Al-Hambali Rahimahullah dalam kitabnya Lathoiful Maarif dengan berbagai kata-kata mutiaranya yang fenomenal, “Hari Raya bukanlah milik orang-orang yang mengenakan baju baru, tetapi milik orang-orang yang ketaatannya bertambah”.
***
Bengkulu, 14 Juni 2019
Hifdzi, Penulis tinggal di Bengkulu. Aktif di Komunitas Menulis Bengkulu (KMB).
